Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja) sendiri adalah teologi klasik yang telah melembaga di lingkungan NU. Klaim ini secara normatif berakar dari berbagai riwayat hadis Nabi tentang firqah umat Islam sepeninggal Nabi. Seperti juga disinggung dalam salah satu hadis, karakter utama dari kelompok ini adalah konsistensinya mengikuti sunnah-sunnah Nabi dan para sahabat atau salaf al-shalih (ma ana `alayh wa ashhabi).
Sebagai poros kaderisasi NU, PMII memiliki hubungan historis, sosiologis dan kultural dengan NU. Sebenarnya NU juga telah bergerak dari kesadaran ini dengan menyatakan Aswaja sebagai manhaj al-fikr. Hanya saja, masih perlu perumusan epistemologis yang lebih mapan tentang bagaimana aktualisasinya dalam berbagai dimensi kehidupan, baik sosial, ekonomi, politik, mapun bidang yang lainnya.
Artikel Terkait
Kualifikasi Piala Dunia, Media Negara Tetangga Soroti Naturalisasi Timnas Indonesia
Salam Hangat untuk Warga Jawa Barat! Mari Bergabung Bersama Putra Putri Pendidikan
Mutiara Pagi: Menjadi yang Berharga (Bagian 1634)
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial
Peran Nahdlatul Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia
Nilai Dasar Pergerakan sebagai Kalimatun Sawa Warga Pergerakan
Upacara Bendera di MI Al-Munawwarah, Upaya Menumbuhkan Sikap dan Karakter Bangsa
Jadilah Pembaca yang Aktif
Mutiara Pagi: Haruskah Ada Caci Maki (Bagian 1635)
Mengenal Hubungan Sejarah PMII dan NU