Geger Tjiandjoer 1885

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 5 Oktober 2024 | 02:00 WIB
Pendopo Cianjur pada masa kolonial Belanda. ( Instagram @cianjurjadul)
Pendopo Cianjur pada masa kolonial Belanda. ( Instagram @cianjurjadul)

Sebelum ia wafat, R.H Muhammad Hasan membeli sebidang tanah seluas 5 hektar di Singapura, tepatnya di pinggir laut di kampung Bedok dan mendirikan semacam pesantren, atau langgar. Pada saat R.H. Muhammad Hasan menetap di Singapura, R.H Yahya, putranya pergi menyusul R.H Muhammad Hasan ke Singapura.

Di Singapura R.H Yahya kemudian menikah dengan Siti Nurqolbi, seorang gadis yang berasal dari Bengkulu. Pernikahannya dengan Siti Nurqolbi dikaruniai 4 orang putra, R.H Musa, R.H. Isa, R.H. Maksum, R.H. Muhidin, dan 2 orang putri,N.R Jamilah,N.R Mujibah.Kemudian, setelah ayahnya wafat, R.H. Yahya mengurus sebuah pesantren yang dibangun oleh ayahnya.

Pada tahun 1877 M, kemudian R.H.Yahya dengan seluruh keuarganya pergi ke Mekkah untuk menunaikan ibadah haji, bahkan dari ke 3 putranya belajar tarekat di Mekkah, dan mendapat ijazahTarekat Naqsyabandiyah.R.H Yahya kemudian wafat di Mekkah,sebelum sempat kembali lagi ke Singapura. Setelah R.H. Yahya meninggal di Mekkah,keluarganya kembali ke Singapura dan pergi ke Cianjur, sesuai permintaan R.H Yahya sebelum meninggal.

Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur Menurut keyakinan para pengikut Tarekat Naqsyabandiyah, bahwa dasar-dasar pemikiran dan amalan tarekat berasal dari Nabi Muhammad Saw.

Para pengikut tarekat, menganggap bahwa silsilah para guru yang telah mengajarkan dasar-dasar tarekat secara turun-temurun itu sangat penting. Garis keturunan para guru yang turun-temurun tersebut, disebut dengan silsilah. Setiap guru tarekat harus berhati-hati dalam menjaga silsilah untuk menunjukkan siapa gurunya,sampai kepada Nabi Muhammad saw.

Gedong Asem dan Tareqat Naqsyabandiyah.

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur, mempunyai silsilah yang mereka yakini merupakan guru secara turun temurun, yang sampai kepada Nabi Muhammad Saw.

Silsilah Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur berasal dari R.H.Muhammad Hasan, ia merupakan orang pertama yang mengenalkanTarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur, yang mendapat Ijazah Khalidiyahdari Syaid Syarif Abdullah Affandi Arjinzani di Jabal Abu Qubais, pada tahun1252H.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, bahwa yang pertama membawaTarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah ke Cianjur adalah R.H Muhammad Hasan.Setelah R.H Muhammad Hasan wafat, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah dilanjutkan oleh R.H Abdussalam, meskipun pada saat itu R.H Hasan memilik soeorang putra, yaitu R.H Yahya. Kemudian R.H Abdussalam digantikan oleh R.H Ma'moen, atau yang lebih dikenal dengan Haji Meong atau Juragan Waas.

Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur, pada masa kepemimpinan kedua tokoh di atas, nampaknya cukup mengalami perkembangan, bahkan telah berhasil merangkul tokoh-tokoh masyarakat untuk bergabung ke dalam Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah, dan setelah itu barulah merangkul rakyat setempat.

Perkembangan tersebut, tentu menjadi perhatian bangsa Belanda, karena dianggap sangat berbahaya. Setelah R.H Ma'moen, Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur diteruskan oleh R.H Muhammad Isa al-Khalidi.

Ia merupakan cucu dari R.H Muhammad Hasan, orang pertama yang memperkenalkan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah tersebut di Cianjur. Pada masa Muhammad Isa inilah perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur begitu pesat, dan berhasil merekrut banyak masyarakat. Tidak hanya itu, dalam upaya menyebarkan tarekat, Muhammad Isa mendirikan sebuah madrasah di kampung Gedong Asem, Cianjur, dan di sanalah tempat kegiatan tarekat berlangsung.

Madrasah yang didirikan Muhammad Isa, tidak hanya dipakai untuk kegiatan tarekat, tetapi juga dipakai untuk kegiatan keagamaan lainnya, seperti mengaji, dan mendirikan Sekolah Istri Agama Gedong Asem.

Setelah R.H Muhammad Isa al-Khalidi wafat pada tahun 1919 M, dilanjutkan oleh R.H Muhammad, setelah itu dilanjutkan R.H. Muhidin. Dari kedua tokoh tersebut, tidak diketahui secara pasti bagaimana perkembanganTarekat Naqsyabandiyah Khalidiyah di Cianjur.

Bahkan setelah R.H Muhidin, yang dilanjutkan oleh R.H Ma'moer, kemudian oleh R.H Ma'soem, sampai R.H Mansoer, perkembangan Tarekat Naqsyabandiyah Khaldiyah di Cianjur tidakketahui secara pasti. Akan tetapi, pada masa itu R.H Mansoer telah membai'at R.H Muhammad Rozie pada 17 Oktober 1948, untuk memimpin tarekat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X