Oleh: Heri Firmansyah
Dalam Buku Politik Islam Hindia Belanda. Het kantoor voor Inlandsche Zaken tahun 1985. karya H. Aqib Suminto hal 64-66 di jelaskan Perihal peristiwa cianjur 1885.
"Meskipun peristiwa cianjur sukabumi ini belum sampai meletus sebagai suatu pemberontakan, namun suasanya cukup membara. Peristiwa ini bermula dati tulisan Brunner dalam Javabode tanggal 22 September 1885 berjudul "perang Sabil" yang menyatakan adanya kegelisahan dan suasana keruh di Cianjur Sukabumi akibat aktivitas gerakan tarekat Naqsyabandiyah.
Akibat tulisan tersebut timbulah kegelisahan di kalangan masyarakat Belanda pada umumnya. Sementara itu K.F.Holle selaku adviseur Honorair urusan pribumi menegaskan, bahwa sekte Naqsyabandiyah secara tidak langsung berbahaya bagi pemerintah, apalagi beberapa anggota tarekat ini ternyata, menduduki jabatan penting pemerintahan.
(Dalam kasus ini terlibat perdebatan sengit antara K.f Holle dan R.H.M Musa yang anti tarekat Naqsyabandiyah fi satu pihak, dengan residen Peltzer yang membela tarekat tersebut di pihak lain)
"Di Priangan dikatakan bahwa mereka akan mengunakan pembakaran sebagai media untuk perang sabil. Menurut artikel ini, mereka yang akan memberontak adalah kelompok tarekat sekte fanatik bernama Naqsyabandiyah ''(Javabode, 22 september 1885)
Residen Priangan Peltzer menilai bahwa berita dalam javabode yang diperkuat oleh De Locomotif itu hanyalah sensasi semata.
Ditegaskannya, Tarekat Naqsyabandiyah yang sudah tiga puluh enam tahun berada di Cianjur-tidak melawan pemerintah sebagaimana yang diberitakan.
Di daerah Priangan di luar Cianjur - Sukabumipun, tidak terdapat tarekat Naqsyabandiyah ditegaskan bahwa tareqat ini bersifat murni agama, dan tidak sama sekali bertujuan politik.
Sekte ini sangat berkembang dan sama sekali tidak mengangu keamanan. Mereka hanya sibuk dengan menghafap Qur'an dan kitab kitab lain yang dibarengi dengan ritual dzikir tertentu.
Residen Peltzer kemudian berhasil membongkar latar belakang mengapa tarekat Naqsyabandiyah disudutkan. Dengan tepat ditemukannya sumber timbulnya peristiwa, yaitu faktor ambisi politik R.Haji Muhamad Musa yang didukung olh K.F.Holle dan faktor perselisihan antara atih Sukabumi dengan sayid bin Muhammad Al Segaf.
"Syair tarekat" dan geger 1885
Salah satu koleksi manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) adalah naskah bernomor kode (104a) kelompok simpanan K.F. Holle.
Naskah tersebut berisi “Syair Tarekat” dan dikarang dalam bahasa Melayu aksara Arab (Melayu-Jawi) oleh seorang ulama dari Minangkabau, yang menyebut identitas dirinya dengan “Tuanku Nan Garang” dan murid dari Syaikh Ismail al-Khalidi Minangkabau (w. 1858 M).
Artikel Terkait
Humor Gus Dur: Antara Bicara dan Kerja Orang Indonesia
Laksanakan Misi, Flight Pesawat Tempur F 16 Berangkat dari Lanud Roesmin Nurjadin ke Jakarta
Mutiara Pagi: Bicara Boleh (Bagian 1631)
Netralitas ASN Hanya Sebuah Mitos di Era Kampanye
Dunia Pendidikan Perlu Kembali ke Ajaran Ki Hajar Dewantara, Pemerintah Tidak Serius Urusi Pendidikan
Syaiful Huda Ungkap Kemungkinan Kemendikbudristek Dipecah Jadi Tiga di Era Prabowo Subianto
Grand Desain Pembangunan Petani
Senyum Adalah Manifestasi Kebahagiaan Batin dan Tanda Ketaqwaan
Mutiara Pagi: Dalam Hidup Ini (Bagian: 1.632)
Nabi Musa AS Tidak Tahu Akan Membelah Laut, Yang Ia Yakini Adalah Allah Akan Menolongnya