Geger Tjiandjoer 1885

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 5 Oktober 2024 | 02:00 WIB
Pendopo Cianjur pada masa kolonial Belanda. ( Instagram @cianjurjadul)
Pendopo Cianjur pada masa kolonial Belanda. ( Instagram @cianjurjadul)

 

Oleh: Heri Firmansyah

Dalam Buku Politik Islam Hindia Belanda. Het kantoor voor Inlandsche Zaken tahun 1985. karya H. Aqib Suminto hal 64-66 di jelaskan Perihal peristiwa cianjur 1885.

"Meskipun peristiwa cianjur sukabumi ini belum sampai meletus sebagai suatu pemberontakan, namun suasanya cukup membara. Peristiwa ini bermula dati tulisan Brunner dalam Javabode tanggal 22 September 1885 berjudul "perang Sabil" yang menyatakan adanya kegelisahan dan suasana keruh di Cianjur Sukabumi akibat aktivitas gerakan tarekat Naqsyabandiyah.

Akibat tulisan tersebut timbulah kegelisahan di kalangan masyarakat Belanda pada umumnya. Sementara itu K.F.Holle selaku adviseur Honorair urusan pribumi menegaskan, bahwa sekte Naqsyabandiyah secara tidak langsung berbahaya bagi pemerintah, apalagi beberapa anggota tarekat ini ternyata, menduduki jabatan penting pemerintahan.

(Dalam kasus ini terlibat perdebatan sengit antara K.f Holle dan R.H.M Musa yang anti tarekat Naqsyabandiyah fi satu pihak, dengan residen Peltzer yang membela tarekat tersebut di pihak lain)

"Di Priangan dikatakan bahwa mereka akan mengunakan pembakaran sebagai media untuk perang sabil. Menurut artikel ini, mereka yang akan memberontak adalah kelompok tarekat sekte fanatik bernama Naqsyabandiyah ''(Javabode, 22 september 1885)

Residen Priangan Peltzer menilai bahwa berita dalam javabode yang diperkuat oleh De Locomotif itu hanyalah sensasi semata.

Ditegaskannya, Tarekat Naqsyabandiyah yang sudah tiga puluh enam tahun berada di Cianjur-tidak melawan pemerintah sebagaimana yang diberitakan.

Di daerah Priangan di luar Cianjur - Sukabumipun, tidak terdapat tarekat Naqsyabandiyah ditegaskan bahwa tareqat ini bersifat murni agama, dan tidak sama sekali bertujuan politik.

Sekte ini sangat berkembang dan sama sekali tidak mengangu keamanan. Mereka hanya sibuk dengan menghafap Qur'an dan kitab kitab lain yang dibarengi dengan ritual dzikir tertentu.

Residen Peltzer kemudian berhasil membongkar latar belakang mengapa tarekat Naqsyabandiyah disudutkan. Dengan tepat ditemukannya sumber timbulnya peristiwa, yaitu faktor ambisi politik R.Haji Muhamad Musa yang didukung olh K.F.Holle dan faktor perselisihan antara atih Sukabumi dengan sayid bin Muhammad Al Segaf.

"Syair tarekat" dan geger 1885

Salah satu koleksi manuskrip yang tersimpan di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) adalah naskah bernomor kode (104a) kelompok simpanan K.F. Holle.

Naskah tersebut berisi “Syair Tarekat” dan dikarang dalam bahasa Melayu aksara Arab (Melayu-Jawi) oleh seorang ulama dari Minangkabau, yang menyebut identitas dirinya dengan “Tuanku Nan Garang” dan murid dari Syaikh Ismail al-Khalidi Minangkabau (w. 1858 M).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X