Mengenal Hidayah dan Tingkatannya - 05

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 3 September 2024 | 05:25 WIB
Ilustrasi seseorang sedang melakukan sujud (Pexels)
Ilustrasi seseorang sedang melakukan sujud (Pexels)

Oleh: Imam Shamsi Ali Al-Kajangi

Pada bagian lalu disampaikan bahwa hidayah at-taufiiq itu secara absolut ditentukan oleh Allah SWT. Ayat Al-Quran menegaskan “innallah yahdi man yasyaa” (Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki”.

Walau kata “man” (siapa) itu merujuk kepada Allah, sebagian juga memahami adanya keterlibatan manusia. Artinya “yasyaa” (berkehendak) itu memiliki dua ujung. Selain Allah berkehendak, ada juga faktor manusia itu sendiri.

Dalam artian bahwa untuk mendapatkan petunjuk dari Allah seseorang harus memiliki keinginan dan usaha. Jika tidak, Allah tidak akan berkehendak membuka jalan hidayah baginya.

Mungkin inilah salah satu makna ketika Allah menyampaikan: “dan orang-orang yang bermujahadah di jalanKu akan aku tunjuki jalan baginya”.

Namun demikian sebagian ulama memberikan contoh-contoh kongkrit betapa seseorang boleh saja diberikan petunjuk tanpa keinginan atau ikhtiar manusiawi. Umar RA misalnya justru mendapat hidayah di saat ingin menghabisi Rasulullah SAW. Walau pada kasus ini ada pengecualian karena memang doa Rasulullah yang dikabulkan oleh Allah SWT.

Hidayah bi ar-rahmah

Ketika seseorang telah mendapatkan hidayah at-taufiiq, dia menerima kebenaran itu berarti dia telah masuk ke dalam rumah kebenaran.

Dia telah dikategorikan sebagai orang yang telah mendapat petunjukNya. Dia dikategorikan seorang Muslim atau Mukmin yang menerima dan mengimani ajaran Allah dan RasulNya.

Akan tetapi masuknya seseorang dalam agama Islam belumlah memberikan kepastian keselamatan ukhrawi. Menerima Islam bahkan mempercayainya memerlukan pembuktian dan tindak lanjut yang sungguh-sungguh. Dan kesungguhan ini juga merupakan bentuk hidayah pada kategori yang berbeda.

Keimanan Islam jelas berbeda dengan konsep keimanan umat Kristiani dalam hal keselamatan. Bagi mereka asal “percaya tuhan telah mengutus anak satu-satunya untuk disalib untuk menebus dosa manusia” keselamatan itu menjadi jaminan. Lalu bagaimana kalau orang itu menjadi penjahat? Menjadi drug cartel atau pembunuh massal misalnya?

Di sinilah Islam hadir dengan ajaran yang imbang dan rasional. Iman itu sangat penting. Karena iman menjadi landasan amal. Tapi iman menjadi pincang dan tidak bermakna jika tidak diikuti oleh pembuktian. Karenanya Islam mendorong pemeluknya untuk masuk ke dalam agama ini secara “menyeluruh” (udkhuluu fis silmi kaaffah).

Menerima Islam secara menyeluruh inilah yang diekspresikan dengan perintah: “bertakwalah kepada Allah dengan ketakwaan yang sesungguhnya” yang dengannya anda “tidak akan meninggal kecuali dalam keadaan Muslim” (Al-Imran: 101).

Untuk menjadi Muslim yang memiliki komitmen kaaffah (berislam secara menyeluruh) inilah yang memerlukan petunjuk khusus dari Allah SWT.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB

Menenun Kebangkitan Adab

Rabu, 20 Mei 2026 | 18:20 WIB
X