Anti Imigran dan Islamophobia di UK

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 8 Agustus 2024 | 14:00 WIB
Ilustrasi Islamphobia. || Foto: Background Briefing: Islamophobia  By Dr Muhammad Rakib Ehsan●
Ilustrasi Islamphobia. || Foto: Background Briefing: Islamophobia By Dr Muhammad Rakib Ehsan●

Islamophobia dan kebencian yang selama ini sengaja ditutupi dengan berbagai propaganda “nilai-nilai” (values) itu ternyata kenyataannya banyak bersifat“lip service” semata.

Dan kalaupun benar adanya, fondasi nilai-nilai itu sangat rapuh. Dalam bahasa Al-Quran: “maa lahaa min qaraar” (tidak memiliki fondasi).

Pengakuan Eropa dan Barat (termasuk Amerika) dengan nilai-nilai itu; seperti demokrasi, kemerdekaan, keadilan, penghormatan kepada hak-hak dasar manusia dalam kenyataannya.

Selain seringkali mengalami pencorengan dengan standar ganda (double standard) juga tidak memiliki akar yang kuat dan meyakinkan dalam realita kehidupan mereka. Pengakuan itu sangat rapuh, mudah goyah, bahkan tumbang.

Untuk memahami semua itu kita bisa ikuti berbagai peristiwa yang melibatkan negara-negara Barat, termasuk Amerika.

Kita masih ingat peristiwa kekerasan-kekerasan yang dialami oleh rakyat sipil di Afghanistan dan Irak. Mungkin yang paling heboh beberapa tahun lalu adalah peristiwa Abu Ghuraib di Irak.

Bahkan dalam beberapa bulan terakhir karakter ganda dan kerapuhan pengakuan nilai (kebebasan dan keadilan) itu semakin terbuka (exposed).

Pembunuhan massal dan genosida yang dilakukan penjajah Israel kepada bangsa Palestina tidak saja dibiarkan oleh mereka yang mengaku pembela dan pahlawan HAM, kebebasan, keadilan dan kemuliaan manusia (human dignity) itu. Justeru mereka menjadi bagian dari pelanggaran HAM yang paling nyata itu.

Karenanya apa yang terjadi hari-hari ini di Inggris kembali membuktikan karakter ganda, kemunafikan dan pengakuan nilai-nilai universal Barat yang rapuh itu.

Mungkin masanya bangsa Barat mengakui bahwa mereka memang perlu belajar dari dunia lain, termasuk belajar dari dunia Islam. Dunia yang seringkali menjadi korban permainan persepsi dan kepentingan.

Dunia Barat juga harus belajar sejarah. Bahwa jauh sebelum mereka eksis dan dikenal, Islamlah yang hadir membawa dan mengusung peradaban yang meteka akui sebagai “western values and civilization”.

That’s a fact and they just need to acknowledge!

Manhattan, Agustus 2024.

(Putra Kajang di Kota New York).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X