Dalam sejarah dikenal dengan “aakhaa baenal muhajriina wa al-anshoor” (mempersaudarakan antara kaum Muhajirun dan anshor. Sesuatu yang sangat mendasar dalam proses mewujudkan komunitas Madinah yang kuat.
Berbagai ayat dan hadits-hadits menekankan urgensi membangun ukhuwah itu. Bahkan demi ukhuwah surah nomor 49 (Al-Hujurat) Al-Quran merincikan bagaimana agar ukhuwah terbentuk dan terjaga soliditasnya.
Surah itu menggariskan bahwa ukhuwah dalam Islam itu terikat dengan ikatan iman. “Sesungguhnya hanya orang-orang beriman itu saling bersaudara”. Seolah ketika seseorang keluar dari ikatan ukhuwah juga melepaskan diri dari ikatan iman.
Bahkan pada surah itu dirincikan bagaimana memperkuat dan menjaga ukhuwah itu. Rekonsiliasi (Ishlaah) antar saudara harus dilakukan jika terjadi permasalahan.
Jangan saling menghina, merendahkan bahkan jangan memanggil dengan panggilan yang menyinggung (offensive). Jangan berburuk sangka, ghiba, memata-matai, dan seterusnya.
Dalam banyak hadits juga Rasulullah menekankan urgensi ukhuwah ini. Satu di antaranya adalah “konsep satu tubuh” (jasad wahid) umat ini.
Disebutkan dalam hadits: “perumpamaan orang-orang beriman dalam cinta dan kasih sayang mereka bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh merasakan perih dan panas (sakit) maka seluruh anggota tubuh akan merasakannya”.
Begitu banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits yang menjelaskan urgensi ukhuwah dan bagaimana menguatkannya. Atas dasar ukhuwah ini pula Rasuluh membangun relasi sosial (komunal) yang sangat elegan dan inklusif.
Bahwa relasi antara orang-orang beriman itu adalah relasi Iman dan hati (rahmah). Hal ini tersimpulkan dalam satu kata Al-Quran: “ruhamaa baenahum” (mereka saling berkasih sayang di antara mereka).
Karenanya apa yang dilakukan Rasulullah (mempersaudarakan) orang-orang beriman bukan saja karena itu keperluan yang mendesak.
Tapi yang lebih penting lagi karena memang itulah ajaran yang mendasar dalam agama ini. Bahwa untuk terbentuknya masyarakat Muslim (umat) tidak mungkin tanpa ukhuwah yang solid.
Sangat disayangkan bahwa saat ini konsep ukhuwah yang dibangun oleh Rasulullah SAW sejak awal Islam, hanya
menjadi slogan indah di al-Quran dan sunnah.
Kenyataan umat Islam mengatakan sebaliknya. Perpecahan atas dasar kebangsaan dan kepentingan ekonomi (dunia) menjadi musibah terbesar umat masa kini.
Kenyataannya Saudara-saudara kita di Palestina masih terzholimi bukan karena Israel kuat. Bahkan bukan karena Amerika yang kuat. Tapi disebabkan karena umat ini tidak membangun ukhuwah dan persatuan secara serius dan sungguh-sungguh.
Saya tutup dengan cerita nyata yang baru terjadi Minggu ini. Bagaimana kepentingan dunia dan hawa nafsu sementara bisa mencabik-cabik ukhuwah dan persatuan umat. Cerita ini adalah peristiwa nyata yang terjadi di kota New York dalam dua Minggu terakhir.
Artikel Terkait
Ketawadhuan KH Miftachul Akhyar
Wujudkan Ketahanan Pangan, Pemkab Cianjur Panen Raya di Desa Wangunjaya
Jangan Sibuk dengan Urusan Orang Lain
Hijrah dan Strategi Pembangunan Masyarakat Islam Menuju Kemenangan
Peresmian Jalan Tol Cimanggis - Cibitung, dari Bogor ke Bekasi Gak Perlu Lewat Jakarta
Ketawadhuan Prof Quraish Shihab dan KH Afifuddin Muhajir
Agama Bukan Sumber Konflik, Tetapi Sumber Kedamaian
Kala Panglima TNI dan Kapolri Berikan Pembekalan bagi Calon Perwira Remaja Tahun 2024
KRI Alamang, Kapal Cepat dan Canggih Milik TNI Angkatan Laut
Tanam Pohon 2 Juta Pohon Selama 18 Tahun, Selamatkan Banyak Hewan dan Tumbuhan