Oleh: Isma Maulana Ihsan (Kabid PI HIMAT Bandung)
Orang-orang dulu selalu merasa hebat dengan nama-nama, dengan senior yang dipunyainya, dengan nama keluarga, dengan nama-nama orang tuanya, sedangkan di belahan bumi lainnya mereka berbangga-bangga dengan ilmu pengetahuan.
Barat maju dengan ilmu pengetahuan, dunia Islam maju dengan ilmu pengetahuan, tetapi yang culas tetap culas, yang menipu tetap menipu.
Di banyak belahan di bumi pertiwi ini juga, tak terkecuali Cianjur, banyak orang-orangnya yang tak mau untuk mengakui kesederhaan, padahal kesederhanaan adalah kekayaan terbesar di alam semesta, suatu karunia alam, ia merupakan bentuk lain dari kejujuran, sedang kejujuran sendiri adalah wajah lain dari keberanian.
Tak ada indahnya, hidup tanpa keberanian dan kejujuran. Sayangnya, manusia Indonesia utamanya di kabupaten Cianjur tidak pernah diajarkan dua kata yang mengandung mistis tersebut.
Tak herannya, keterjalinan hubungan yang terjadi di antara sesama manusia dalam pergaulan di bumi manusianya hanyalah sebatas pada suatu transaksi kepentingan semata, yang terkadang nir-etis dan begitu kentara nuansa politis-pragmatisnya.
Di sinilah, saat keadaan masyarakat kacau karena terhempasnya nilai-nilai kemanusiaan, kaum intelektual harus turun tangan.
Ialah mahasiswa pada kemudiannya memiliki tanggung jawab soal dengan berpikir dan bersikap kritis serta bertindak transformatif dalam menjadi katalisator agen perubahan di dalam usaha-usaha menanamkan kembali nilai-nilai kemanusiaan secara universal.
Sayangnya, meneruskan kembali refleksi yang telah diuraikan oleh senior sekaligus panutan saya di Himpunan Mahasiswa Tjiandjur (HIMAT), Ridwan Mubarak, masih banyak mahasiswa Cianjur yang belum dapat tampil untuk menjawab tantangan tadi dan seolah-olah laksana anak ayam kehilangan induknya, banyak kami rasakan-sebagai mahasiswa aktif asal Cianjur yang kehilangan visi pada upaya menjadi katalisator Pembangunan manusia Cianjur ke depannya, mahasiswa-mahasiswa ini telah menjadi seragam dan kadang kehilangan jati diri dan ujudnya dan ini berimplikasi logis pada corak berpikir manusia Indonesia secara umumnya yang amat mudah merasionalisasikan keadaan, mereka menjelma para pengecut yang dirasionalisasikan sebagai kepatuhan.
Akibatnya, kami-kami, mahasiswa yang masih duduk di bangku kelas perkuliahan kadang-kadang bertanya tentang keberadaan diri sendiri; apakah saya seorang kader HIMAT?
Fungsionaris partai yang kebetulan menjadi mahasiswa atau apakah saya politikus yang harus bersikap hipokrit dan penuh tipu daya serta bersedia menerima kompromi-kompromi prinsipil?
Serta tidak boleh punya idealisme yang muluk-muluk? Atau, apakah kami-kami mahasiswa Cianjur ini harus patuh dan setia pada keputusan serta seperangkat intruksi dari senior atau ketua umum HIMAT pusat?, atau saya harus tunduk pada putusan kepala fakultas?
Atau kah, kami mahasiswa-mahasiswa ini adalah seorang manusia yang sedang belajar dalam kehidupan yang luas dan unik ini serta mencoba terus-menerus tanpa henti untuk berkembang dan menilai secara kritis segala situasi? Meskipun, kerap kita sering salah jalan karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman.
Sebab karena kebingungan kami itu, lantasnya berupaya untuk bernaung pada organisasi bercorak kedaerah seperti HIMAT ini, berharap kemudian HIMAT menjadi kawah candradimuka segenap pemikiran gerakan kemahasiswaan minimal dalam ruang waktu kabupaten Cianjur, sehingga di sini letak pergerakan dan perjuangan kami dalam komitmen merealisasikan cita-cita kemerdekaan Indonesia sebagai tanggung jawab dalam pernannnya kader umat dan kader bangsa.
Artikel Terkait
Bijak dalam Memanfaatkan Waktu: Anugerah yang Tak Tergantikan Menurut Islam
Ditjenpas Luncurkan Standar dan Modul Perlakuan Anak Kasus Terorisme
Ihsan Menjalani Hidup
Curug Ciarjuna di Garut, Miliki Beberapa Air Mancur yang Cocok untuk Bersantai dan Bermain Air
PP Muhammadiyah Terima Kunjungan Dubes Jepang
Anak Muda Lentera Bangsa
Kala TNI Membangun Akses Jalan Sekolah Rimba Papua
Taruna TK. IV AAU Ziarah ke Makam Panglima Besar Jenderal Soedirman
HIMAT Hari Ini, Cianjur "Suram" Esok Hari
Tren Penceraian Karena Judi Online Meningkat