Kesimpulannya adalah umat Islam di Amerika dan Barat secara umum harus menjadi “leading player” (imaam) dalam upaya mentransformasi Amerika menjadi Amerika yang lebih baik. Amerika yang punya hati dan nurani.
Amerika yang jujur pada nilai-nilai yang dibanggakan; penghormatan kepada HAM, kehidupan dan kemuliaan manusia, kebebasan, kesetaraan dan keadilan untuk semua (justice for all).
Untuk umat Islam di Amerika hanya akan mampu melakukan ini, jika dua hal yang mendasar ini dilakukan. Satu, membangun Komunitas Muslim yang kuat.
Komunitas Muslim yang tidak saja besar secara kwantitas. Tapi memiliki kwalitas tinggi sebagaimana Ibrahim yang dalam kesendirian dipuji sebagai umat yang solid.
Dua, mengambil bagian dalam kehidupan “mainstream” dan public engagement. Artinya Umat Islam Amerika harus melakuan pembenahan dan memperkuat komunitasnya serta membangun mindset bahwa Amerika adalah negara mereka (their home) sendiri. Umat Islam Amerika tidak bisa lagi menjadi tamu di negaranya sendiri.
Itulah di antara poin-poin yang saya sampaikan dalam khutbah Idul Adha kemarin. Semoga Allah memberkahi dan menerima amal kita semua. Sekali lagi, selamat hari Raya Idul Adha. Taqabbala Allahu minna wa minkum. Amin!
Bellevue Hopsital, 17 Juni 2024
(Chaplain, NYC Health & Hospitals / Bellevue Hospital).
Artikel Terkait
Tujuh Alasan Shaum Arafah Berdasarkan Tanggal Negeri Sendiri
Keselamatan di Akherat Tergantung pada Keselamatan Hati
Nasab Terputus, Ba'alwy dalam Lingkaran Petugas Haji
Yang Tak Pernah Hilang
KPK Dinilai Salahi Prosedur saat Pemeriksaan Barang Milik Hasto
Mantap...Jokowi Teken Keppres Satgas Pemberantasan Judi Online
Gila... 3,2 Juta Warga Indonesia Main Judi Online, mulai Ibu Rumah Tangga hingga Pelajar
Anggota Koramil Sinak Tewas Ditembak KKB di Papua
Pertegas Toleransi Beragama, Gereja Katedral Kirim Sapi Limosin untuk Masjid Istiqlal
Belajar dari Amerika dan China dalam Membangun Jalan Bebas Hambatan