Kedua, bahwa kesadaran keumatan itu harus kembali dirajut dalam kesadaran kesatuan (Ummah wahidah) yang diikat oleh “ukhuwah imaniyah” (innamal mikminuna Ikhwah) dan “ikatan kasih sayang” atau rahmah (ruhamaa baenahum).
Kesemua itu telah dirusak oleh wahan (hubbu dunia wa karahiyatul maut) tadi. Akibatnya koneksi keumatan tidak lagi berlandaskan “iman” dan “rahmah”. Tapi didasarkan kepada kepentingan sempit yang biasa disebut “National interests” atau kepentingan nasional sempit.
Inilah yang kemudian menjadikan sebagai negara-negara mayoritas Muslim rela mengorbankan saudara-saudara seiman jika kepentingan nasional kurang maksimal.
Bahkan seringkali ada negara-negara Islam yang lebih memilih kerjasama dengan negara-negara lain bahkan penjahat sekalipun, demi apa yang disebut kepentingan nasional itu.
Hal ini sangat terekspos dengan peristiwa genosida yang masih terus berlangsung di Gaza Palestina saat ini. Sebagain negara-negara Islam masih memilih membangun relasi dengan Israel di saat saudara-saudaranya dibantai tanpa pri kemanusiaan.
Konteks keumatan di Barat
Hal lain yang saya tekankan pada khutbah Id kemarin adalah pentingnya mengambil pelajaran dari keumatan Ibrahim dalam konteks keumatan kita di Dunia Barat, khususnya di Amerika.
Ada banyak persamaan antara keadaan keumatan Ibrahim dan keumatan di Amerika. Salah satunya adalah bahwa Ibrahim pada masanya hidup (lahir dan tumbuh) dalam masyarakat yang berideologi paganisme (penyembah berhala-berhala).
Umat Islam di Amerika sejatinya juga hidup di tengah masyarakat yang menyembah berhala. Berhala tidak lagi dalam bentuk patung-patung yang kita kenal itu. Tapi berhala “materialisme” yang telah berhasil memarjinalkan posisi Tuhan dalam kehidupan manusia.
Karenanya konteks keumatan Ibrahim AS bagi umat Islam Amerika adalah sangat tepat. Kita menghadapi kaum paganis yang radikal. Paganisme material ini telah menjadi wujud sembahan yang menjadikan bangsa Amerika kehilangan nurani dan jati diri.
Akibatnya kehidupan mereka terbolak-balik. Tidak jarang yang baik dianggap buruk dan yang buruk dianggap baik. Saya tentu tidak perlu merincikan hal ini. Kita bisa melihat secara nyata bagaimana “gaya hidup” dengan segala kemajuan dunia menjadi paradoksikal dengan nilai-nilai nurani dan moralitas.
Karenanya jika Ibrahim bangkit melawan keganasan paganisme pada masanya, umat Islam Amerika harusnya memilki misi yang sama. Kehadiran umat Islam di Amerika, baik yang imigran apalagi memang terlahir di bumi Paman Sam harus mampu membangun komitmen untuk memerangi berhala-berhala (paganisme/materialisme) itu.
Tugas Ibrahim adalah menghadirkan transformasi akidah Tauhid yang menjadi fondasi bagi masyarakatnya. Ini pulalah misi umat Islam Amerika. Menghasilkan transformasi atau perubahan fundamental bagi bangsa Amerika. Dari sebuah bangsa yang diperbudak oleh material menjadi bangsa yang hanya diperbudak oleh Pencipta langit dan bumi.
Tentu kesadaran tugas mulia ini harus terbangun di atas mentalitas yang solid (tinggi dan mulia). Dan mentalitas yang kuat dan mulia (izzah) itu hanya akan terjadi ketika kita berada pada posisi “kepemimpinan”.
Maka sebagaimana Ibrahim diangkat menjadi pemimpin manusia, umat ini juga harusnya mewarisi posisi kepemimpinan atau imaamah itu. Kepemimpinan yang dikaruniakan karena memang telah memenuhi kriterianya. Salah satunya karena telah memenuhi semua perintah-perintah agama (kalimaat) itu. Bukan karena dipaksakan melalui nepotisme yang memalukan.
Artikel Terkait
Tujuh Alasan Shaum Arafah Berdasarkan Tanggal Negeri Sendiri
Keselamatan di Akherat Tergantung pada Keselamatan Hati
Nasab Terputus, Ba'alwy dalam Lingkaran Petugas Haji
Yang Tak Pernah Hilang
KPK Dinilai Salahi Prosedur saat Pemeriksaan Barang Milik Hasto
Mantap...Jokowi Teken Keppres Satgas Pemberantasan Judi Online
Gila... 3,2 Juta Warga Indonesia Main Judi Online, mulai Ibu Rumah Tangga hingga Pelajar
Anggota Koramil Sinak Tewas Ditembak KKB di Papua
Pertegas Toleransi Beragama, Gereja Katedral Kirim Sapi Limosin untuk Masjid Istiqlal
Belajar dari Amerika dan China dalam Membangun Jalan Bebas Hambatan