Haul Syaikhona Maimoen Zubair yang ke-5

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Kamis, 13 Juni 2024 | 08:00 WIB
Kiai Maimoen Zubair Ulama tersohor di Indonesia  (By Instagram.com/shalsa_azzahra_)
Kiai Maimoen Zubair Ulama tersohor di Indonesia (By Instagram.com/shalsa_azzahra_)

Oleh: Ismael Amin Kholil

Jika ada sosok yang amat dicintai oleh jutaan orang dari berbagai elemen dan tingkatan, mulai dari orang awam sampai pejabat negara, maka guru kami Syaikhina Maimoen Zubair jelas adalah salah satunya.

Begitu besarnya cinta masyarakat kepada Mbah Moen, sampai-sampai ketika beliau wafat, karangan bunga yang dikirim ke Pondok Al-Anwar Sarang memanjang sampai jarak 1 Km lebih, beberapa diantaranya bahkan dari pemuka agama lain

Apa yang membuat sosok Mbah Moen begitu dicintai?

Selain kealiman beliau, salah satu “sirr”-nya mungkin adalah ke-tawadhu’an dan kesederhanaan beliau yang luar biasa

من تواضع رفعه الله

Ketika itu, meski sudah menjadi Ulama besar dengan ribuan santri, rumah beliau masih sangat sederhana, temboknya hanya batu-bata, lantai juga belum dikeramik.

Sampai pada akhirnya ketika beliau berangkat haji, atas persetujuan putra-putra beliau, salah satu pengurus pondok merenovasi rumah beliau agar lebih layak digunakan untuk menerima para tamu.

Setelah beliau pulang haji dan mengetahui rumahnya direnovasi, beliau duko (marah) karena itu, beliau bahkan pernah dawuh :

"Senajan omahku cilik, aku emoh bangun omahku, senajan tamu yo akeh, ben sak kamote, mergo biasane nek dibangun gedhe-gedhe malah ora iso dienggo ngaji, opo maneh aku isin karo Kanjeng Nabi seng daleme yo cilik, rompok utowo gubug :

ان الذين ينادونك من وراء الحجرات

Lafadz الحجرات iku maknane rompok utowo gubug "

“Meskipun rumah saya kecil, saya gak mau bangun rumah saya, meskipun tamu banyak, biar semuatnya saja. karena biasanya kalau dibangun besar nanti malah gak bisa dibuat ngaji. Apalagi saya malu kepada Kanjeng Nabi yang rumahnya kecil, hanya berupa gubug sederhana".

Salah seorang Ning dari Situbondo pernah bercerita kepada saya, ketika Muktamar NU di Sukorejo pada tahun 1980-an, Mbah Moen menginap di rumah keluarganya yang tidak jauh dari lokasi acara.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Penyesalan Bung Karno

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Korupsi Musuh Pancasila

Senin, 1 Juni 2026 | 17:49 WIB

Lima Sila sebagai Lima Luka

Senin, 1 Juni 2026 | 08:25 WIB

Refleksi Tentang Kesetaraan Gender

Sabtu, 30 Mei 2026 | 08:53 WIB

Qurban dan Kepedulian Sosial

Selasa, 26 Mei 2026 | 21:04 WIB

Dua Wajah Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 | 04:34 WIB

Mengapa Indonesia Sulit Maju?

Minggu, 24 Mei 2026 | 08:07 WIB

Rekacipta Indonesia

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:16 WIB

Perangai Islam Ilmiah

Sabtu, 23 Mei 2026 | 08:13 WIB

Sistem AHWA dalam Pemilihan Ketua Umum PBNU

Jumat, 22 Mei 2026 | 05:29 WIB
X