Saat itu memang ada pilihan revolusioner melawan Jepang (non-kooperatif). Ada pula pilihan bekerjasama dengan Jepang (kooperatif). Pejuang Indonesia terbelah saat itu.
Bung Karno dan Hatta memilih jalan kooperatif, bekerja sama dengan Jepang. Dengan harapan, Jepang akan membantu kemerdekaan Indonesia.
Sementara politisi lain memilih jalan non-kooperatif, termasuk Soekarni, Chaerul Saleh, Adam Malik, Armunanto, A.A. Maramis, dan Achmad Soebardjo.
Bung Karno bersedia menjadi pemimpin untuk memobilisasi tenaga rakyat dengan harapan mendapatkan simpati Jepang. Tapi derita tenaga kerja itu tak lagi bisa ditoleransi, bahkan oleh Bung Karno sendiri.
Jumlah romusha yang dipaksa bekerja oleh Jepang di Indonesia berkisar antara 4 hingga 10 juta orang.
Dari jumlah ini, sekitar 270.000 romusha dikirim ke luar Jawa. Ada pula yang dikirim ke Thailand dan Burma. Mereka bekerja di proyek-proyek seperti Jalur Kereta Api Burma-Thailand yang terkenal kejam.
Romusha hanyalah salah satu saja kisah rakyat banyak yang tercecer, dan tersisih, di era kemerdekaan. Kisah derita lainnya soal para gadis pribumi yang dipaksa menjadi perempuan penghibur tentara Jepang.
Mardiyem dapat bercerita banyak. Ia seorang gadis muda dari Yogyakarta. Pada tahun 1942, Mardiyem tertipu dengan janji menjadi penyanyi di Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Pada saat itu, ia baru berusia 13 tahun. Ia berharap dapat menggapai mimpinya di dunia hiburan. Namun, setibanya di Banjarmasin, Mardiyem dibawa ke sebuah tempat yang disebut "comfort station.”
Astaga. Mardiyem kaget. Ia dipaksa menjadi budak seks bagi tentara Jepang.
Pada hari pertama, Mardiyem sudah diperkosa berulang kali oleh tentara Jepang. Sehari ia harus melayani 10-15 tentara Jepang. Ini sebuah pengalaman traumatis yang berlangsung setiap hari selama bertahun-tahun.
Kisah Mardiyem salah satu saja dari banyak kisah tragis yang dialami oleh perempuan di seluruh Asia selama Perang Dunia II. Ada sekitar 200.000 wanita yang dipaksa menjadi gadis penghibur bagi tentara Jepang.
Para wanita ini berasal dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Korea Selatan, dan Cina.
Di Korea Selatan, mereka dikenal sebagai "comfort women" atau wanita penghibur. Banyak dari mereka dipaksa dengan cara yang sama seperti Mardiyem.
Trauma fisik dan emosional yang mereka alami sangat mendalam. Itu menyebabkan banyak dari mereka mengalami gangguan kesehatan jangka panjang, depresi, dan stigma sosial.
Artikel Terkait
Yuk Ikutan Festival Imigrasi 2024, Ini Syaratnya!
Super...Deden Nasihin Raih Doktor FISIP UNPAD, Kang Ace : Kader Golkar Selain Politisi Juga Teknokrat
Angkat Disertasi Kasus Kawin Kontrak di Cianjur, Deden Nasihin Raih Gelar Doktor FISIP UNPAD
Deden Nasihin Politisi yang Akademisi, Moncer di Karier Politik Jawa Barat dan Sukses Raih Doktor FISIP UNPAD
Doktor Deden Nasihin, Sosok Muda Cemerlang sebagai Politisi Golkar dan Sukses menjadi Akademisi FISIP UNPAD
PT LIB Gelar Pertemuan dengan Pemilik Klub Liga 1, Bahas Kompetisi 2024/2025
Muhammadiyah Gandeng Ormas Lintas Iman Perkuat Bidang Kesehatan
Potret Wisanggeni 8005, Kapal Patroli Terbesar Milik Polri
Pan Borneo, Proyek Jalan Raya Terbesar di Malaysia
Islamophobia: Fakta, Faktor dan Solusi - 02