Ketika Andy Warhol pertama kali membawa begitu banyak pola-pola konsumerisme dalam lukisan dengan botol Coca-Cola, kaleng biskuit, dan sebagainya, awalnya tidak diterima.
Tetapi lama-lama itu pun dianggap sebagai satu genre seni lukis yang kokoh dalam budaya populer.
Hal yang sama juga akan terjadi dengan AI. Pola baru dibawa AI, menyatukan seni dengan kemajuan teknologi. Warna, dan bentuk bisa dikreasi oleh teknologi AI. Ini tetap bisa dianggap karya seni, namun dalam format yang berbeda.
Pertanyaan ketiga, akankah AI mengalahkan para raksasa pelukis zaman dulu: Van Gogh, Picasso, Rembrandt?
Ya! Tegas jawabnya. Keindahan adalah sumur tak berdasar. Tak ada ujungnya. Semua keindahan bisa juga dikalahkan oleh keindahan lainnya.
Apalagi, keindahan pun kontekstual. Setiap zaman memiliki ukuran keindahannya sendiri. Pada waktunya, tokoh seperti Rembrandt, Picasso, Van Gogh, dan lainnya pun akan dilampaui oleh pelukis-pelukis terbaru di zamannya yang menggunakan AI yang semakin canggih.
Namun sehebat apapun aplikasi AI, ia hanya bisa menghasilkan karya yang dalam dan menyentuh melalui tangan dan jiwa seorang pelukis, yang juga memiliki kedalaman batin dan keluasan pandangan hidup.
A.I akan semakin dahsyat. Tapi tetap jauh lebih dahsyat, para kreator yang tahu cara memanfaatkannya.
Artikel Terkait
Jay Idzes, Pemain Indonesia Pertama Antar Klub Italia Promosi ke Serie A
Gunung Galunggung, Simpan Kekayaan Alam dan Potensi Wisata Eksotis
Potret KRI Golok 688, Armada Tempur TNI AL Berkemampuan Siluman
Review Grand Final Miss Indonesia 2024
Dugaan Korupsi di PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Geledah 7 Lokasi KPK Temukan Dokumen Transaksi
Ibu Muda Bikin Video Asusila dengan Anaknya, Lantas Ngaku ke Suami
Menciptakan Wirausaha Muda Pertanian demi Regenerasi Petani Nusantara
Apa Kabar Dana Gempa Tahap 4 di Kab. Cianjur ?, BPBD: Langsung Tanyakan Pada Kami !
9 Calon Kabupaten Baru di Jabar Masih Proses Kajian di Kemendagri, Cianjur Selatan Diantaranya
Penjual Senjata ke KKB Berhasil Ditangkap Satgas Operasi Damai Cartenz