Meng-abdallah-kan Ulil Abshar

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 27 Mei 2024 | 14:00 WIB
Ulil Abshar (Tangkapan layar akun X @faizalassegaf dan akun X @ulil)
Ulil Abshar (Tangkapan layar akun X @faizalassegaf dan akun X @ulil)

Mas Ulil satu panggung bersama pemikir-pemikir Mesir, Hassan Hanafi dengan membawakan makalah berbahasa Arab. Demikian pula KH Said Aqil Sirodj dan Mbak Musdah Mulia, kami, kader-kader NU di Mesir saat itu merasa bangga, pemikir-pemikir Indonesia tidak kalah dengan pemikir-pemikir Mesir yg kala itu menjadi gara terdepan pembaruan pemikiran Islam di dunia Arab.

Akhir tahun 2004 saya kembali ke Indonesia, pertengahan tahun 2005 saya diajak Mas Ulil gabung Jaringan Islam Liberal. Di Utan Kayu, selain di Jaringan Islam Liberal saya juga diminta menjadi host, bersama Alif dan KH Wahid Maryanto di acara Kongkow Bareng Gus Dur di KBR 68 H, acara rutin tiap Sabtu pagi bersama KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari tahun 2005 sampai Gus Dur wafat tahun 2009.

Dalam tahun-tahun belakangan, tak sedikit yang menganggap Mas Ulil sudah berubah. Alasannya karena rajin mengaji kitab-kitab karya Imam Al-Ghazali, yg dikenal kritis terhadap filsafat, mencurigai rasionalitas dan mengagungkan tasawuf.

Disebut kontras dengan wacana Islam Liberal yang sebelumnya digelorakan Mas Ulil. Karena tokoh pemikir klasik yang sering dijadikan rujukan wacana Islam Liberal adalah Ibn Rusyd (Averroes) bukan Imam Al-Ghazali.

Ibn Rusyd pula yang menulis bantahan terhadap Imam Al-Ghazali dalam kitab Tahafut Tahafut (Kerancuan Buku Kerancuan) atas karya Imam Al-Ghazali Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filosuf). Ibn Rusyd sebagai filosuf yang mengkritik balik Imam Al-Ghazali, seorang teolog.

Ada yang menyebut, ada 'Ulil Lama' ada 'Ulil Baru'. Seperti halnya dulu Imam Syafii yang memiliki dua pendapat. 'Qaul Qadim' (Pendapat Lama) dan 'Qaul Jadid' (Pendapat Baru). Ulil Lama pendiri dan tokoh Islam Liberal. Ulil Baru, Penafsir dan Pembela Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali.

Namun saya tidak melihatnya demikian. Karena, Mas Ulil tidak pernah mengoreksi pendapat-pendapat lamanya. Wacana Islam Liberal yang pernah dilontarkan Mas Ulil tidak ada yang dikoreksi.

Pandangan-pandangannya terkait dialog antar agama, kesetaraan kaum beriman, nikah beda agama, penolakannya terhadap kelompok intoleran dan garis keras, dan lain-lain yang bisa kita baca arsip tulisan-tulisan Mas Ulil di website islamlib.com atau buku-buku yang ia terbitkan.

Hal ini berbeda dari "qaul jadid" Imam Syafii yang berbeda dari "qaul qadim". Kalau ada yang berbeda dari Mas Ulil mungkin gayanya saja.

Kalau wacana 'Islam Liberal' tidak ada yang diubah dan dikoreksi, maka, wacana 'Islam Tasawuf' merupakan hal yang "plus" bagi Ulil Abshar-Abdalla.

Kalau di wacana 'Islam Liberal' Mas Ulil mengedepankan dan berkutat di rasionalitas, dan bisa jadi sudah sampai di batasnya (limit/mentok) maka, Mas Ulil pun merambah jalur baru: spiritualitas. Artinya "Ulil plus" yang menggabungkan rasionalitas dan spiritualitas. Mas Ulil adalah musim liberal plus sufi.

Saya teringat dengan 'jalan tengah' yang pernah disampaikan alm Jalaludin Rakhmat (Kang Jalal), sewaktu diminta respon soal wacana 'Islam Fundamentalis' dengan 'Islam Liberal', Kang Jalal menyuguhkan 'Islam Sufistik' yang menurutnya lebih akan bisa diterima oleh masyarakat Indonesia.

Gus Dur juga punya pendapat yang senada. Wacana 'Islam Liberal' disalahpahami karena istilah 'liberal'nya. Gus Dur pun melakukan pembaruan baik di tubuh NU atau di pemikiran Islam di Indonesia, tanpa embel-embel.

"Coba JIL ganti nama dengan Jilbab, atau Jidat (Jaringan Islam unt Demokrasi dan Toleransi) gak akan ditolak" hehehe kata Gus Dur sambil bergurau di Utan Kayu saat tahun 2005, sewaktu ada aksi pembubaran JIL.

Namun bagi saya Imam Al-Ghazali bisa diletakkan dalam rumpun 'sufi yang liberal' kalau mau menggunakan perspektif liberal terhadap tradisi tasawuf. Parameternya adalah otonomi individu dan kebebasan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X