Perlahan Peran Ulama, Pendeta, dan Biksu Bakal Tergantikan oleh Artificial Intelligence

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 16 Maret 2024 | 22:31 WIB
Peran pemuka agama terancam digantikan oleh AI (istockphoto/demaerre)
Peran pemuka agama terancam digantikan oleh AI (istockphoto/demaerre)

Kedua, layanan 24 jam tanpa istirahat. Ulama, pendeta, dan biksu harus tidur, dan libur. Sementara AI bisa ditanya kapan saja, termasuk pukul 02.00 malam, ketika umat susah tidur dan kesepian. “Layanan ini mustahil bisa diberikan individu ulama manapun.”

Ketiga, ini yang lebih penting. Ulama, pendeta, dan biksu dapat bias pada mazhab tertentu. Mereka cenderung mengikuti cara pandang satu aliran saja.

Sedangkan AI, dapat memberikan pandangan perbandingan, dari berbagai interpretasi. Ia dapat pula mencari sisi universal dan abadi dari satu doktrin agama.

Denny mencontohkan Jalaluddin Rumi seraya bertanya, ”Mengapa Rumi begitu terkenal bahkan di Amerika Serikat, melampaui penyair barat sendiri. Padahal Rumi sudah wafat 800 tahun?”

Menurut Denny, hal itu terjadi karena Rumi mampu membawa pesan- pesan universal, melampaui sekat-sekat agama. “AI pun bisa diprogram demikian,” ujarnya meyakinkan.

Keempat, Ini hal yang penting juga. Yaitu, pada waktunya ulama, pendeta, dan biksu akan sakit dan mati seperti manusia lain. Tapi robot AI terus hidup karena ia bisa di-upgrade. Informasi yang dikuasainya bisa selalu ditambah dan di-update.

Empat hal ini, pelan tapi pasti, akan membuat AI lebih superior dari individu ulama, biksu dan pendeta manapun, soal keluasan dan kedalaman informasi agama.

“Tapi saya berpandangan, ulama, pendeta, dan biksu akan terus berperan. Hanya saja peran mereka tak lagi sedominan dulu,” kata konsultan politik yang rajin menulis puisi ini.

Tadarus Ramadah penuh Tokoh
Acara Tadarus Puisi Ramadan berlangsung meriah. Semua kursi yang tersedia terisi penuh. Para tokoh yang hadir membacakan puisi: Helmi Yahya, Wina Armada, Nasir Tamara, dan lainnya. Alunan piano yang dimainkan oleh Marusya Nainggolan mampu membuat tamu Tadarus Puisi Ramadan memberikan tepuk tangan gemuruh.

Penyair senior dan profesional juga tampil memikat, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Yose Rizal Manua, Aspar Paturusi, Agus R. Sarjono, Jamal D. Rahman, dan lainnya.

Suara Sutardji masih bertenaga ketika membacakan puisi sambil menyanyikan lagu-lagu berirama blues. Dan gaya di panggungnya banyak mendapat tepuk tangan dari pengunjung.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X