Oleh : Jacob Ereste
Kami bertiga, Markenun dan Karto Glinding bisalah disebut sebagai sohib yang berhasil melampui tidak cuma sekedar jalinan perkawanan pada umumnya, karena sudah terjalin seperti ikatan persaiudaraan yang tidak tersekat.
Sehingga ikatan persahabatan sejak 40 tahun silam itu, telah menguji nilai persaudaraan yang tumbuh. Semua itu berlangsung jauh sebelum belajar di perguruan tinggi, lalu berpisah karena beberapa waktu lamanya, karena asyik melakukan pengembaraan intelektual maupun spiritual sampai bertemu kembali lagi sejak beberapa tahun belakangan dalam format yang sudah agak berbeda, sekedar untuk tidak mengatakan telah berusia senja.
Masing-masing kami agaknya cukup memiliki kesadaran serta pemahaman terhadap keunikan dan kelebihan masing-masing, sekaligus dengan kekurangannya sebagai bagian dari kelebihan itu sendiri minimal dalam kesetiaan dan egosentrisme yang relatif cukup terkendali.
Baca Juga: Hari Pertama Tahun 2024, Mahasiswa PMI UIN Bandung Bantu Masyarakat Relokasi Gempa
Itulah sebabnya dari dialog "Renungan Akhir Tahun 2023 bersama Markenun kemarin, Karto Glinding langsung muring-muring, karena tak diajak serta. Meski dia pun paham bahwa acara itu berlangsung secara spontan, toh dia tetap saja terus menyodok dengan tuduhan, bila sikap egoistik kami berdua Markenun sama saja dengan sikap arogan sebagian besar kalangan aktivis yang merasa bahwa persoalan yang tengah melantak republik ini dapat diselesaikan sendiri.
Anggaran sikap arogan seperti itu, katanya justru yang menjadi peyebab dari perjuangan untuk rakyat menjadi sulit terwujud. Karena masalah besar yang tengah dihadapi bangsa dan Negara ini, harus dihadapi bersama.
Semua pihak harus yakin memiliki tanggung jawab yang sama. Sebab, tanpa ada dukungan dari berbagai pihak, tidak mungkin tidak mungkin pembenahan di republik ini bisa terwujud. Karena mereka yang tidak berperan serta justru sangat potensial menjadi penghambat dari perubahan untuk perbaikan masa depan yang diharap dapat lebih memberi kebahagian itu.
Pendek kata, ucap Karto Glinding, jangan sampai semua pihak hanya ingin mengedepankan, ide, gagasan, cara bahkan menampilkan dirinya sendiri, tanpa mengindahkan keberadaan pihak lain.
Baca Juga: Tips Bahagia
Egosentrisitas serupa ini penyebabnya tak lain, karena pemahaman dan kesadaran pada sikap arif seperti yang dikatakan Ki Hajar Dewantoro, yaitu Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, lan tut wuri handayani, tidak pernah didalami maknanya yang hakiki.
Pendek kata, Karto Glinding marah dengan gayanya khas sebagai ekspresi dari ikatan persaudaraan kami yang sudah terjalin. Maka itu, karena merasa acara ngobrol kemarin itu dia tak diajak, dia jadi merasa berhak untuk mengungkapkan kekecewaannya sekarang ini.
Tapi itulah ekspresinya yang otentik dalam ikatan dan jalinan perkawanan antara kami yang telah memasuki dimensi persaudaraan yang sejati, maka itu keindahan dari persaudaraan kamu sungguh indah dan asyik.
Lalu untuk mengisi waktu malam peralihan tahun 2023-2024, Karto Glinding menginisiasi lalu untuk berkumpul dikediaman yang sederhana namun sungguh asri berikut garansi untuk menyediakan semua panganan kesukaan kami, termasuk minuman serta fasilitas transport, katanya seraya mengharap acara itu dapat diawali dengan acara makan malam bersama khas kampung seusai sholat isya.
Artikel Terkait
Upaya Komunitas Dalam Mengatasi Sampah Penyebab Bau Lingkungan dan Banjir di Majalaya
Pemberdayaan Masyarakat Desa
Pengembangan Masyarakat Pedesaan dan Industri
Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Ekowisata Desa Karangsong, Indramayu, Jawa Barat
Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pondok Pesantren Melalui Agribisnis
Pemberdayaan Masyarakat Desa Melalui (GERMAS) Gerakan Masyarakat dalam Pelestarian Lingkungan Hidup Upaya Menciptakan Kampung Hijau di Desa Campaka
Gunakan Motor, Kapolda Jabar dan Pangdam III Siliwangi Cek Lalu Lintas Libur Nataru
Lima Problema Mendasar Dunia
Tips Bahagia
Hari Pertama Tahun 2024, Mahasiswa PMI UIN Bandung Bantu Masyarakat Relokasi Gempa