Merengkul Keragaman: Ras dan Pluralitas Agama dalam Perspektif Islam

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 19 September 2023 | 10:32 WIB
Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali saat bersalaman dengan Wali Kota New York . (Inidata.id/Istimewa)
Presiden Nusantara Foundation, Shamsi Ali saat bersalaman dengan Wali Kota New York . (Inidata.id/Istimewa)

Oleh: Imam Shamsi Ali

Pagi ini saya terbang ke Houston untuk menjadi pembicara di Rice University tentang keragaman ras dan agama dalam perspektif agama Islam. Sebuah topik yang menarik tentunya.

Karena memang isu rasisme khususnya dan diskriminasi kehidupan secara umum masih terus terjadi di negara yang diakui sebagai “pulau kebebasan” (land of freedom) ini.

Memang salah satu kenyataan dunia kita saat ini adalah adanya fenomena paradoksikal. Di satu sisi dengan globalisasi, dunia semakin saling terkoneksi (interconnected).

Namun di sisi lain juga dengan keterbukaan yang ada, khususnya keterbukaan media, dunia juga semakin terbuka dengan keragamannya.

Dan karenanya isu keragaman dalam dunia yang terbuka memerlukan pemahaman yang benar, sekaligus sikap bijak yang tinggi. Jika tidak, boleh jadi akan terjadi gesekan-gesekan sosial yang tidak diharapkan. Gesekan sosial itu dapat terjadi, salah satunya, karena dipicu oleh kompetisi yang menjadi ciri dunia global ini.

Islam dan keragaman ras

Islam menempatkan keragaman ras manusia tidak saja sebagai fenomena sosial. Tapi lebih dari itu keragaman ras justeru dilihat sekaligus sebagai fenomena keimanan. Dan karenanya keragaman ras mendapat perhatian besar dalam Islam.

Satu, bahwa keragaman diyakini sebagai sunnatullah (ketentuan) Allah dalam ciptaanNya. “Dan sekiranya Allah berkehendak niscaya Dia menjadikan kalian semua dalam satu umat” (Al-Maidah: 48).

Dua, bahwa keragaman itu sekaligus menjadi salah satu ayat (tanda) kebesaran Allah SWT. “Dan di antara tanda-tandaNya adalah penciptaan langit dan bumi dan perbedaan bahasa dan warna kalian” (Ar-Rum: 22).

Tiga, Islam mengajarkan bahwa semua manusia, tanpa kecuali, diciptakan dari sumber penciptaan yang sama. “Dan Alah menciptakan kalian dari tanah” (Fathir: 11).

Empat, Islam mengakui kesatuan keluarga (one family) dan pada saat yang sama merangkul keragaman yang ada. “Wahai manusia Sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki dan perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku..” (Al-Hujurat: 13).

Lima, konsep Tauhid dalam Islam mengajarkan “One God-One Humanity”. Bahwa keyakinan kita kepada Tuhan yang satu sekaligus mengajarkan kemanusiaan yang satu. Kemanusiaan inilah yang disebut fitrah.

“Wahai manusia bertakwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari satu orang “nafs wahidah”. (An-Nisa: 1).

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Kedaulatan Pangan Dimulai dari Desa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 19:49 WIB

Mendadak Tua

Sabtu, 18 Juli 2026 | 04:47 WIB

Pagi, Aku Tak Berarti?

Sabtu, 11 Juli 2026 | 05:45 WIB

Jalan Tangguh Iran

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:43 WIB

Saat Regenerasi Menemukan Namanya: Isfhan

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:32 WIB

Menyiapkan Sekoci bagi Penumpang Kapal Retak

Kamis, 2 Juli 2026 | 14:04 WIB

Wahai Mentari Pagi!

Rabu, 1 Juli 2026 | 07:46 WIB

Mencegah Korupsi di Tatar Santri

Selasa, 30 Juni 2026 | 19:34 WIB
X