Bahaya, BMKG Sebut Muncul Sesar Cugenang Usai Gempa M 5,6 Cianjur

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Jumat, 9 Desember 2022 | 06:24 WIB
Kepala BMKG jelaskan kemunculan patahan Cugenang
Kepala BMKG jelaskan kemunculan patahan Cugenang

Journalnusantara.com, Cianjur - Gempa Cianjur telah meluluhlantakkan beberapa titik lokasi. Salah satunya yang paling parah adalah Kecamatan Cugenang.

Hal tersebut tentu membuat masyarakat harus lebih waspada, mengingat pasca gempa Cianjur, selain gempa susulan yang kerap terjadi, kini muncul sesar Cugenang.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menerangkan jika gempa Cianjur berkekuatan 5,6 magnitudo dipicu pergeseran sesar baru yang dinamakan Patahan Cugenang.

"Dari hasil penelusuran, ditemukan ada patahan yang baru teridentifikasi, karena patahan ini melintasi kecamatan Cugenang maka ditetapkan namanya menjadi Patahan Cugenang," kata Dwikorita saat konferensi pers daring, Kamis (8/12/2022).

Baca Juga: FIFA, Qatar dan Eksposur Kemunafikan

Dwikorita menyampaikan jika patahan yang baru saja terbentuk atau ditemukan ini melintasi 9 desa di dua kecamatan dengan straight atau lintasan yang mengarah ke barat laut tenggara.

Sembilan desa yang dilintasi garis patahan tersebut ialah 8 desa di Kecamatan Cugenang yang terdiri dari Desa Ciherang, Desa Ciputri, Desa Cibeureum, Desa Nyalindung, Desa Mangunkerta, Desa Sarampad, Desa Cibulakan, dan Desa Benjot.

Selain itu ada juga satu desa lainnya di ujung patahan sesar tersebut yakni Desa Nagrak Kecamatan Cianjur.

"Panjang patahan ini sekitar 9 kilometer, dengan radius berbahaya kiri-kanannya 300-500 meter," kata dia.

Menurut hasil survey lapangan tersebut, zona berbahaya yang direkomendasikan untuk direlokasi mencapai 8,09 kilometer persegi dengan total lebih kurang 1.800 rumah tinggal.

Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Edlina Karina, Miss Indonesia Aceh 2022

Menurut dia, kawasan di zona berbahaya tersebut harus dikosongkan dari bangunan tempat tinggal, namun bisa dialihkan menjadi lahan pesawahan, resapan, hingga konservasi.

"Lahan tersebut tetap bisa dimanfaatkan untuk kawasan nonstruktural. Bisa untuk lahan pesawahan, dihijaukan, serapan, konservasi, atau bahkan wisata tanpa adanya hotel. Konsepnya ruang terbuka tanpa ada bangunan sehingga jika terjadi gempa agar tidak ada runtuhan bangunan dan korban jiwa," ucap dia.

Dwi menambahkan, selain sesar baru Cugenang, pihaknya juga mengimbau pemerintah untuk memperhatikan sesar aktif lain. Diharapkan peta sesar yang sudah ada dijadikan acuan untuk tata ruang wilayah.

Baca Juga: Kembali ke Cianjur, Presiden Jokowi Naikkan Bantuan untuk Rumah Rusak Korban Gempa, Segini Nominalnya

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Sumber: bmkg.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X