Lalu kita kunci ikhtiar ini dengan doa; sebab kerja tanpa doa bisa congkak, doa tanpa kerja bisa hampa. Mari menengadahkan tangan:
اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَاجْعَلْهَا بَلَدًا آمِنًا مُطْمَئِنًّا، سَخَّاءً رَخَاءً، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاهْدِهِمْ لِلْعَدْلِ وَالرَّحْمَةِ وَالأَمَانَةِ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَانْزِعْ مِنْهَا حُبَّ الذَّاتِ وَالظُّلْمَ وَالطَّمَعَ، وَارْزُقْنَا قَادَةً صَالِحِينَ يُحِبُّونَ شُعُوبَهُمْ وَيَخَافُونَكَ فِينَا، وَاجْعَلْ «غَرُودَا فِي صُدُورِنَا» عَهْدًا صَادِقًا لِلْخَيْرِ وَالْوَطَنِ.
“Ya Allah, lindungilah negeri kami Indonesia; jadikan ia negeri yang aman dan tenteram, murah rezeki dan sejahtera. Perbaikilah para pemimpin kami, bimbinglah mereka pada keadilan, kasih sayang, dan amanah. Satukanlah hati kami, cabutlah darinya cinta diri, kezhaliman, dan kerakusan. Anugerahkan kepada kami pemimpin yang saleh, mencintai rakyatnya dan takut kepada-Mu; jadikan ‘Garuda di dada kami’ sebagai janji yang jujur untuk kebaikan dan tanah air.”
Bila sesudah doa ini kita bergerak, meski satu langkah kecil, maka Garuda benar-benar hidup di dada, bukan sekadar gambar pada kain, melainkan hikmah yang menuntun keputusan, keberanian yang menegakkan keadilan, serta kasih yang merangkul semua warna Indonesia.
Dan bila tiap dada menepati janji itu, merah putih tak hanya berkibar di tiang-tiang kota, melainkan juga bersemayam di hati-hati yang saling menjaga.