Para salaf menyalakan pelita teladan itu. ‘Umar ibn al-Khaṭṭāb raḍiyallāhu ‘anhu berkata:
لو عثرت بغلةٌ بالعراق لخشيتُ أن يسألني الله عنها: لِمَ لم تمهِّد لها الطريق؟
“Seandainya seekor baghal tersandung di Irak, aku khawatir Allah akan menanyaku, mengapa engkau tidak meratakan jalan baginya?”
Dan lagi:
نَحْنُ قَوْمٌ أَعَزَّنَا اللَّهُ بِالإِسْلَامِ، فَمَهْمَا ابْتَغَيْنَا الْعِزَّةَ بِغَيْرِهِ أَذَلَّنَا اللَّهُ
“Kami adalah kaum yang dimuliakan Allah dengan Islam; jika kami mencari kemuliaan selain dengannya, Allah akan menghinakan kami.”
Al-Mawardi menegaskan peran kepemimpinan sebagai amanah peradaban:
الإِمَامَةُ مَوْضُوعَةٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا
“Kepemimpinan ditetapkan sebagai pengganti kenabian dalam menjaga agama dan mengelola urusan dunia.”
Al-Ghazazali menautkan agama dan negara sebagai dua saudara kembar:
الدِّينُ وَالمُلْكُ تَوْأَمَانِ؛ فَالدِّينُ أَسٌّ وَالمُلْكُ حَارِسٌ؛ فَمَا لَا أَسَّ لَهُ مَهْدُومٌ، وَمَا لَا حَارِسَ لَهُ ضَائِعٌ
“Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar; agama adalah fondasi dan kekuasaan adalah penjaga; yang tanpa fondasi pasti roboh, yang tanpa penjaga akan tersia-sia.”
Dan Ibn Taymiyyah menyentak kesadaran kita:
إِنَّ اللَّهَ يُقِيمُ الدَّوْلَةَ العَادِلَةَ وَإِنْ كَانَتْ كَافِرَةً، وَلَا يُقِيمُ الظَّالِمَةَ وَإِنْ كَانَتْ مُؤْمِنَةً
“Allah menegakkan (memberi keberlangsungan) bagi negara yang adil meski non-Muslim, dan tidak menegakkan negara yang zalim sekalipun Muslim.”
Terjemah kalimat-kalimat ini satu, keadilan adalah oksigen bagi negara, tanpa itu, kita semua kehabisan napas.
Maka mari kita bertanya sekali lagi, lebih jujur, lebih dalam, ketika berita buruk datang, apakah aku menjadi penyambung harap atau penyebar gelap?
Saat berbeda pilihan, apakah aku masih mengingat bahwa إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ” Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (Al-Ḥujurāt: 10)
Atau aku menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk memutus silaturahmi? ,Ketika di beranda media sosial ada kesempatan melukai, apakah kupilih untuk merangkul? ,Ketika di TPS ada kesempatan curang, apakah kupilih untuk jujur? ,Ketika di kantor ada kesempatan menitip nama, apakah kupilih untuk menolak?
Dan kepada para pemegang kuasa, ayat-ayat ini menatap tanpa berkedip, adakah kebijakan anda mengutamakan yang rapuh, atau memanjakan yang sudah kuat?
Adakah prosedur anda memudahkan rakyat kecil, atau mempersulit yang tak punya koneksi? Ingat sabda Nabi SAW:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Pemimpin adalah penggembala dan akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (Bukhārī–Muslim)
Dan ingat pula:
«مَنْ لَا يَرْحَمْ لَا يُرْحَمْ»
“Siapa tidak menyayangi, tidak akan disayangi.” (Bukhārī–Muslim)
Bila ada yang bertanya, “Di mana jalan keluarnya?, “Jawabnya tidak puitis, tetapi harus tegas.
Garuda di dada menuntut kita kembali ke tiga hal yang sederhana namun berat: jujur saat mudah berbohong, adil saat mudah memihak, peduli saat mudah acuh.
Mulailah dari yang paling dekat: menunaikan hak yang bekerja untuk kita, membayar pajak dengan benar; tidak menyuap, membela yang dirugikan; menolak ujaran kebencian, memilih pemimpin karena integritas, bukan karena bingkisan; menagih kebijakan yang berpihak pada yang paling lemah. Inilah Bhinneka Tunggal Ika yang hidup
Bhineka Tunggal Ika artinya perbedaan diperlihara, kesamaan diperkuat, tujuan dipersatukan, agar kemajemukan menjadi persaudaraan, bukan perlombaan saling meniadakan.