nasional

Antara Kebanggaan yang Tersisa dan Pengkhianatan yang Merajalela

Senin, 25 Agustus 2025 | 13:00 WIB
Warga RW 07 Magersari, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Argomulyo, Salatiga, membentangan Bendera Merah Putih sepanjang 170 Meter. (suaramerdeka.com/Surya Yuli)

Mengapa ada kebijakan yang terasa ramah pada puncak, namun dingin di lereng dan beku di lembah? Berapa banyak anak cerdas berhenti kuliah karena biaya?

Berapa banyak kepala rumah tangga memilih antara membeli beras atau membayar obat?

Mengapa hukum tampak gagah menatap rakyat kecil, tetapi menunduk ketika berpapasan dengan orang kuat?

Bukankah Nabi SAW. sudah memperingatkan:
إِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ قَبْلَكُمْ… إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضَّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ
“Yang membinasakan umat-umat sebelum kalian: bila yang mencuri adalah orang terpandang, mereka biarkan; bila yang lemah, mereka tegakkan hukuman atasnya.” (Bukhārī–Muslim)

Apakah kita rela negeri ini berjalan dengan kompas yang jarumnya disetel oleh kepentingan sempit?
Atau kita memilih kembali pada poros amanah yang suci:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian menunaikan amanah kepada yang berhak, dan apabila menetapkan hukum di antara manusia, hendaklah dengan adil.” (An-Nisā’: 58)

Keadilan bukan slogan, ia adalah tata cara mencintai sesama.

Tanpanya, Garuda di dada menjelma bayang-bayang. Nabi SAW. menggambarkan bangsa sehat seperti bangunan kokoh:
المُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lain bagaikan bangunan yang saling menguatkan.” (Bukhārī–Muslim)

Satu batu bata retak, seluruh dinding ikut bergetar.

Itulah mengapa iḥsan ( احسن),membuat yang di sekitar kita menjadi lebih baik, harus menjadi kebiasaan:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan (kalian) berlaku adil dan berbuat ihsan.” (An-Naḥl: 90)

Lalu kita bertanya lagi kepada diri: ketika kabar duka datang dari kampung yang bukan kampungku, dari suku yang bukan sukuku, dari agama yang bukan agamaku, apakah air mata kita enggan datang?

Padahal Al-Qur’an menegur yang memamerkan ibadah tetapi membiarkan perut kosong di sampingnya:
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ • فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ • وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ
“Tahukah engkau orang yang mendustakan agama? Itulah yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al-Mā‘ūn: 1–3)

Nasionalisme tanpa empati adalah cangkang kosong. Empati tanpa tindakan adalah kabut perasaan.

Maka iman menuntun kita karena iman adalah kerja: mencintai sesama seperti diri sendiri.
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.” (Bukhārī–Muslim)

Di sini, Garuda bertemu i’tsār (altruisme),ketika kita rela menunda kepentingan kecil milik diri demi kepentingan besar milik semua:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Mereka mendahulukan (orang lain) atas diri mereka sendiri, meski mereka sendiri membutuhkan.” (Al-Ḥasyr: 9)

Maukah kita menakar ulang isi dompet, isi pikiran, dan isi kebijakan kita dengan timbangan ayat ini? , Maukah kita menanyakan pada jabatan, engkau alat ibadah atau alat pujian? Pada kekayaan, engkau jembatan kebaikan atau pagar ego?

Halaman:

Tags

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB