Muslihat Snouck Hurgronje, Intelektual di Balik Tragedi Perang Aceh

photo author
M Wawan, Journal Nusantara
- Sabtu, 21 Februari 2026 | 17:55 WIB
Ilustrasi Snouck Hurgronje. (FOTO: AI)
Ilustrasi Snouck Hurgronje. (FOTO: AI)

JOURNALNUSANTARA.COM - Di balik jubah putih, sorban hijau, dan kemampuannya melantunkan ayat suci Al-Qur'an secara fasih, tersembunyi sebuah muslihat paling gelap dalam sejarah kolonialisme.

Christiaan Snouck Hurgronje, yang dikenal di kalangan rakyat Aceh sebagai Tengku Puteh, bukanlah seorang pejuang iman, melainkan seorang begundal intelektual yang menggunakan kedok agama untuk merancang genosida terselubung.

Kejahatan intelektual Snouck dimulai dengan sebuah dusta besar di Mekkah pada tahun 1885. Demi menembus kota yang terlarang bagi non-Muslim, ia melakukan prosedur khitan dan mengucapkan syahadat palsu di hadapan Qadhi Jeddah.

Dengan identitas Abdul Ghaffar, ia menyusup ke jantung spiritual Islam untuk memetakan titik lemah umat Muslim Nusantara yang sedang menimba ilmu di sana.

Dalam surat rahasia kepada sahabatnya, Goldziher, ia terang-terangan mengakui bahwa keislamannya hanyalah permainan untuk menipu agar bisa masuk ke gerbang kota suci.

Penyamaran Snouck mencapai puncak kontroversialnya saat ia tiba di Aceh. Sebagai Tengku Puteh, ia memenangkan hati para ulama dan rakyat, namun di balik itu, ia mengirimkan lebih dari 1.400 makalah intelijen yang menjadi panduan bagi militer Belanda untuk melancarkan serangan mematikan.

Ia adalah otak di balik strategi pecah belah yang memisahkan pemimpin adat (Uleebalang) dari pemimpin agama (Ulama). Nasihatnya sangat brutal: hantam terus kaum ulama tanpa ampun dan jangan pernah berunding dengan pimpinan gerilya.

Dampak dari strategi cerdas yang dirancangnya sungguh mengerikan. Diperkirakan antara 50.000 hingga 100.000 penduduk Aceh tewas bersimbah darah dalam operasi militer yang digerakkan oleh riset intelijennya.

Bahkan setelah pedang disarungkan, Snouck tetap berupaya melumpuhkan Islam melalui rekayasa hukum. Melalui Teori Receptie, ia berusaha mengerdilkan hukum Islam agar hanya menjadi agama masjid yang tidak punya taring politik.

Begitu bencinya para tokoh bangsa terhadap warisan ini, hingga sejarawan dan ahli hukum Indonesia, Hazairin, menjuluki pemikiran Snouck sebagai Teori Setan karena dianggap sebagai alat adu domba yang bertentangan dengan jati diri bangsa.

Snouck Hurgronje tetap menjadi simbol paradoks: seorang ilmuwan jenius di mata Barat, namun pengkhianat tanpa tanding di mata rakyat Aceh.

Ia membuktikan bahwa pengetahuan, jika jatuh ke tangan yang salah, bisa menjadi senjata pemusnah massal yang lebih tajam daripada meriam.

Sumber:
* Ichwayudi, B. Hipokritisme Tokoh Orientalis Christiaan Snouck Hurgronje.
* Masruroh, S. (2019). Kisah Christian Snouck Hurgronje Pura-Pura Masuk Islam.
* Erik M. (2022). Syekh Palsu Snouck Hurgronje, Siasat Belanda Kalahkan Rakyat Aceh.
* Koningsveld, P.S.J. van. Snouck Hurgronje dan Islam.
* Dahwal, S., & Arso, D. D. (2023). Studi Tentang Teori-Teori Hukum Islam.
* Suminto, H. A. (1985). Politik Islam Hindia Belanda.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: M Wawan

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X