Di sektor perumahan dan mata pencaharian, kerugian juga tidak kalah besar. Tercatat 111.430 unit rumah rusak, 182 ekor ternak hilang atau mati, serta lahan produktif seperti persawahan seluas 64.837 hektare dan perkebunan 13.118 hektare terkena dampaknya.
Tim gabungan dari pemerintah daerah, BNPB, TNI, Polri, hingga relawan terus bekerja tanpa henti untuk mencari korban yang masih hilang. Fokus utama saat ini adalah evakuasi, pencarian korban, serta pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi.
“Kami memprioritaskan evakuasi, pencarian korban hilang, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga yang terdampak,” tegas Murthalamuddin.
Baca Juga: Cara Cek NIK dan Status DTSEN, Ada 5 Bansos Siap Cair Desember 2025
Pendistribusian bantuan menjadi tantangan tersendiri karena banyak wilayah yang masih terisolasi. Murthalamuddin menyebut distribusi logistik dilakukan melalui berbagai jalur transportasi, terutama bagi wilayah yang sulit dijangkau.
“Bantuan terus dikirim, dan untuk daerah yang masih terisolir, distribusi dilakukan melalui jalur udara dan laut,” terangnya.
Sejumlah daerah yang belum dapat diakses jalur darat antara lain Aceh Tamiang, Langsa, Aceh Timur, Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.
Pemerintah Aceh bersama TNI, Polri, BNPB, serta berbagai lembaga terkait terus memaksimalkan upaya penanganan bencana.
Kolaborasi ini mencakup pendistribusian bantuan, penyediaan layanan kesehatan, penyelamatan korban, serta pembangunan dapur umum di wilayah pengungsian.