Sinergi Lintas Sektor, Kunci Kolektif Cegah Banjir

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 8 November 2025 | 10:00 WIB
Kondisi tanggul kali Regoyo yang jebol 200 meter usai dihantan banjir lahar dingin semeru. (suarahits.com/pep)
Kondisi tanggul kali Regoyo yang jebol 200 meter usai dihantan banjir lahar dingin semeru. (suarahits.com/pep)

Journalnusantara.com - Banjir adalah ancaman kompleks yang menuntut solusi yang juga kompleks dan terintegrasi. Upaya pencegahan banjir tidak bisa lagi menjadi tanggung jawab satu entitas saja, melainkan memerlukan sinergi total yang melibatkan pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, akademisi, dan yang paling krusial, masyarakat. Sinergi inilah yang menjadi kunci pertahanan kolektif untuk menciptakan ketahanan wilayah terhadap bencana.

Di tingkat pemerintahan, sinergi harus terjalin mulai dari hulu hingga hilir. Pemerintah pusat (seperti Kementerian PUPR) berfokus pada pembangunan infrastruktur skala besar waduk, bendungan, dan normalisasi sungai lintas provinsi. Sementara itu, pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten/Kota) bertanggung jawab pada penegakan tata ruang, pengelolaan drainase perkotaan, serta rehabilitasi kawasan resapan air. Koordinasi dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) lintas batas administrasi mutlak diperlukan karena air tidak mengenal batas wilayah.

Peran sektor swasta dan akademisi juga vital. Perusahaan dapat berkontribusi melalui program CSR untuk reboisasi atau pembangunan sumur resapan, sementara lembaga pendidikan dan penelitian menyediakan data hidrologi, inovasi teknologi peringatan dini, dan kajian mitigasi berbasis ilmu pengetahuan.

Namun, inti dari sinergi pencegahan banjir terletak pada partisipasi aktif masyarakat. Masyarakat adalah garda terdepan. Gerakan kerja bakti membersihkan saluran air, tidak membuang sampah ke sungai, dan inisiatif menanam pohon di lingkungan sekitar merupakan aksi nyata yang secara langsung meningkatkan kapasitas penampungan air dan mengurangi potensi penyumbatan. Melalui edukasi dan pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana), masyarakat bertransformasi dari objek bencana menjadi subjek pencegahan.

Dengan mengikat seluruh elemen ini dalam satu visi, yaitu kesadaran ekologis dan kepatuhan tata ruang, kita dapat menciptakan sistem pencegahan yang kokoh dan berkelanjutan. Sinergi adalah investasi terbaik untuk masa depan bebas banjir.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X