Mutiara Pagi: Kecakapan (Bagian 1818)

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 22 April 2025 | 06:52 WIB
Ilustrasi mendayung perahu naga saat Pe Cun atau Hari Raya Bacang. (Unsplash/Winston Chen)
Ilustrasi mendayung perahu naga saat Pe Cun atau Hari Raya Bacang. (Unsplash/Winston Chen)

Walaupun pendayungnya seribu
Tapi nakhodanya tak tahu arah
Maka sia-sialah perahu itu
Akan banyak menghadapi masalah

Dalam budaya Bugis
Ada pepatah penuh makna filosofis:
"Nasaba' paddo'na isseng,
polei paddi'na banyak,
de'na isseng nakodana,
tette'na ianjo de'na kutetteaki."

(Walau pendayungnya banyak,
tapi kalau nakhodanya bodoh,
pantang aku ikut di dalamnya)

Pepatah itu menggambarkan
Tentang pentingnya kecakapan
Serta kepiawaian seorang nakhoda
Dalam menggapai tujuan yang ada

Jika tak bisa, tak perlu dipaksa
Sebab perahu bisa tenggelam
Jika tak mampu, istirahat saja
Sebab perahu bisa karam

Nakhoda yang hebat
Tak butuh banyak alasan
Ketika perahu mulai tersesat
Mengakuinya dengan kejujuran

Malang, 22 April 2025
Salam sehat,

M. Sinal

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X