Timnas Garuda Pemersatu Bangsa, Layak Difilmkan di Layar Lebar

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 23 November 2024 | 16:08 WIB
Timnas Indonesia saat melawan Arab Saudi di matchday 6 kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia Round ketiga (IG @timnasindonesia)
Timnas Indonesia saat melawan Arab Saudi di matchday 6 kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia Round ketiga (IG @timnasindonesia)


Oleh: Agung Wibawanto

Ada banyak yang bisa dilihat dan dipelajari dari kebangkitan sepak bola tanah air belakangan ini. Ketika saya diminta untuk menulis, saya sampai bingung ingin memilih angle yang mana? Semuanya seru dan menarik, semuanya layak untuk diulas. Ada soal patriotik bela tanah air, soal kerja keras, soal kebersamaan, soal riwayat timnas, soal debat pemain diaspora dengan local pride dan masih banyak lagi termasuk komentar miring tetangga.

Setelah saya sedikit mengikuti informasi dan berita perkembangan timnas, entah itu dari cuplikan tiktok (karena saya tidak memiliki akun tiktok), reels facebook, YouTube hingga media online (portal), saya pun memilih untuk merangkum kesemuanya menjadi sebuah judul di atas (Timnas Garuda Pemersatu Bangsa). Semoga tulisan ini bisa mewakili rasa dan pikiran penggibol di seluruh Nusantara.

Beberapa waktu lalu ada seorang wanita yang disebut dengan "Tante Erni" dianggap netizen sebagai pemersatu bangsa. Tentu ini hanya guyonan tengil ala warga net +62. Yang dimaksud pemersatu bangsa itu ternyata hanya sebagai "titik kumpul" untuk komen yang aneh-aneh. Namun tidak dengan timnas Garuda. Mereka menjadi pemersatu bangsa karena partispasi dan keterlibatan langsung yang massiv baik di dunia online maupun dunia nyata.

Timnas Garuda berhasil menggetarkan sentimen kebangsaan yang itu kemudian melahirkan kreativitas setiap anak bangsa memberikan kontribusi riil nya. Yang suka menulis akan membuat karya tulisan tentang timnas, yang hobi ngevlog akan merekam dan upload hasil rekaman, yang pedagang kaki lima menjual marchendise pernak-pernik timnas (syal, kaos, topi dll) dengan disain yang kreatif.

Semua seperti tergerak melakukan semacam mash up timnas di seluruh media promo yang mereka miliki. Diharapkan atau tidak, banyak orang yang melihat dan kini tahu serta mengerti perkembagan sepak bola Indonesia. Bahkan tidak sedikit podcast, media hingga reaktor YouTube yang mengulas timnas Garuda. Mereka mengenal satu persatu pemain timnas saat ini. Meski juga banyak warga tetangga yang iri karena kalah saing.

Mereka juga kagum dengan lagu Indonesia Raya, mereka terharu dengan tradisi menyanyi tanah air di akhir pertandingan meski kalah atau pun menang. Terlebih bagi orang Indonesia, kini mereka tahu dan mengenal dekat pribadi Calvin Verdonk yang pendiam, Jay Idzes yang tegas, Justin Hubner yang preman, Rafael Struick yang klemar klemer tapi matikan dll. Dan semua mendapat julukan khusus dari penggemar.

Kecintaan para penggibol tanah air bahkan dunia hingga menjadi pemersatu bangsa, dipastikan tidak tumbuh begitu saja. Selain kemampuan dan daya juang mereka di lapangan yang membuat decak kagum, tapi juga mental dan pribadi pemain yang begitu menghayati perannya di lapangan layaknya prajurit siap tempur berperang hingga meregang nyawa demi merah putih. Mungkin hal itu yang justru memunculkan simpati suporter.

Kita belum pernah misalnya melihat pemain (Verdonk) meski dengan kaki kram dipaksa berlari kembali menjaga daerah pertahanannya. Biasanya, terkait stamina, banyak pemain timnas yang bertumbangan di 10-15 menit terakhir. Atau ada pemain (Hubner) yang sama sekali tidak keder menghadapi provokasi lawan. Ia dengan garang menatap mata lawan. Ia bahkan rela diganjar hukuman kartu demi tidak kebobolan.

Atau, pernahkah ada pemain (Idzes) sebagai kapten timnas yang memberi motivasi teman-temannya bahkan berani bicara mengobarkan semangat suporter? Berikut kutipan Bang Jay memotivasi rekan-rekannya: "Kita layak di sini. Kita sudah berjuang keras untuk berada di sini. Sekarang kita ada di babak ini, dan kita punya kesempatan emas untuk membuat negara kita di perhitungkan. Pikirkan kamu bermain untuk siapa?" Ucapnya tegas.

"Pikirkan keluargamu, pikirkan bangsamu, pikirkan kehormatanmu. Dan saat kita keluar (ke lapangan) kita bunuh (hajar) mereka!" Lanjutnya lagi. Rekan-rekannya kompak berteriak, "Yeeesss!" Bang Jay juga menyulut semangat suporter dengan pidatonya yang ikonik, "Nobody believe in us. But we believe!" Hingga semua ucapan Jay itu dikreasi oleh seorang musisi (Didit Himawan) menjadi sebuah lagu berjudul: "We Believe" (cek di YouTube).

Masyarakat Indonesia terutama netizennya terkait timnas jangan diragukan lagi, selain memiliki semangat nasionalis juga mereka sangat kreatif. Mereka akan melakukan apapun guna mendukung timnas. Tapi saya kira ini juga hukum aksi reaksi. Suporter akan mendukung dengan gila jika timnas nya memang pantas buat didukung. Sementara Jay Idzes cs merasa mereka akan tampil lebih gila jika didukung penuh oleh suporter.

Pemain akan membalas memberi suporter hadiah permainan cantik penuh semangat. Lihat Calvin Verdonk sampai memerah wajahnya dan memukul-mukul lapangan saat vs Jepang hanya karena menganggap dirinya gagal memberi hadiah kepada penonton. Memang harus sampai begitu jika seorang pemain memberikan totalitas dirinya di atas lapangan. Ia akan pertaruhkan segalanya demi kehormatan dan kebanggaan masyarakat Indonesia.

Mungkin kini tinggal menunggu kreativitas cineas yang bakal membuatkan film atas kebangkitan timnas Garuda. Beberapa potongan video sudah menyebar di mana-mana bisa didapatkan sebagai dokumentasi. Hingga kelucuan tingkah polah para pemain beserta pelatih dan staf yang tampak kompak seperti keluarga. Semua penggalan kisah itu tentu akan menarik untuk dirangkum dalam sebuah film agar terkenang abadi menjadi pembelajaran generasi ke depan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X