Oleh: Raud Fuady Al-Khudri
Cianjur, Jawa Barat, adalah daerah yang diberkahi dengan para ulama. Ulama yang menjadi mata rantai keilmuan daerah Jawa Barat dan Banten salah satunya adalah Mama Gentur, Syekh K.H. Ahmad Syathibi bin Muhammad Sa'id al-Qonturi asy-Syanjuri. Ajengan Marti merupakan salah satu ulama yang bersanad keilmuan kepada Mama Gentur melalui guru-gurunya.
Ajengan Marti adalah ulama Cianjur yang produktif menulis karya-karya kitab dari berbagai cabang keilmuan. Terdapat kurang lebih 50 karya yang ditulis olehnya meliputi matan, syarah, taqrirat, hingga hasyiyah dari berbagai kitab. Di setiap karyanya, beliau menggunakan nama pena Syekh Abu al-Bahr Miftah bin Ma'mun bin Abdullah al-Marti asy-Syanjuri.
Salah satu karya kitabnya dari cabang ilmu Falak yang rutin dikaji pada bulan Syawal di Pondok Pesantren Al-Khudriyah Kadubitung adalah Hasyiyah 'ala Taqrib al-Maqsad fi al-Amal bi ar-Rub'i al-Mujayyab dan ar-Risalah al-Ula wa ar-Risalah ats-Tsaniyah fi Taqwim an-Nayyirain.
BIOGRAFI
Ajengan Marti atau Abuya K.H. Enjang Miftah bin Ma'mun al-Marti lahir di Mande, Cianjur, pada tahun 1377 Hijriah, atau bertepatan dengan tahun 1957 Masehi. Ajengan Marti atau Abuya Marti, bersama ayahnya, Mama K.H. Ma'mun, mendirikan Pondok Pesantren Daaru al-Fikar pada tahun 1987, setelah sebelumnya selama 7 tahun beliau mengajar para santri di daerah kelahirannya di Mande, kemudian hijrah ke Marti. Oleh kalangan santri, pesantrennya sering juga disebut sebagai Pesantren Marti Balagah.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Ajengan merupakan orang terkemuka, terutama guru agama Islam. Sedangkan gelar Abuya berasal dari bahasa Arab yang kemudian diserap dan diadaptasi oleh budaya lokal di Banten dan Jawa Barat. Abuya dalam makna aslinya berarti orang yang dituakan karena menjadi guru atau pembimbing.
Di Banten, gelar Abuya biasa disematkan kepada para ulama yang menjadi gurunya para guru, yang memiliki pengaruh besar terhadap tatanan keagamaan dan keilmuan di masyarakat. Maka, tidak berlebihan jika oleh masyarakat Banten dan sekitarnya, beliau digelari Abuya atau Ajengan.
RIHLAH KEILMUAN
Ilmu keagamaan dasar Ajengan Marti seperti ilmu Al-Qur'an, nahu-saraf, fikih dan lainnya, didapat dari ayahnya, Mama K.H. Ma'mun. Kemudian setelah usianya menginjak 10 tahun, pada tahun 1967, Ajengan Marti diberangkatkan oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Basyuni Baros, Desa Sukataris, Kecamatan Karangtengah, Cianjur. Di Baros, beliau mukim selama 3 tahun dan berguru kepada Mama K.H. Raden Mubarok, Mama K.H. Ma'mun, dan Mama K.H. Mansyur.
Setelah dari Baros, pada tahun 1970, Ajengan Marti melanjutkan rihlah keilmuannya ke Pondok Pesantren Riyadhul Muta'alimin Gasol Pusaka, Kec. Cugenang, Cianjur, selama 3 tahun. Di Gasol, beliau berguru kepada Mama K.H. Hambali dan Mama K.H. Ahmad Khotib.
Pada tahun 1973, Ajengan Marti kemudian melanjutkan rihlahnya ke luar kabupaten, tepatnya ke Pondok Pesantren Keresek, Kec. Cibatu, Garut, selama 3 tahun. Di Keresek, beliau berguru kepada Mama K.H. Busyrol Karim, Mama K.H. Imam, Mama K.H. Toha, dan Mama K.H. Suhrowardi.
Setelah dari Garut, pada tahun 1976, Ajengan Marti kemudian melanjutkan rihlahnya selama 3 tahun berikutnya ke Sukabumi, tepatnya ke Pondok Pesantren Darul Hikam Cibeureum, Desa Sukamekar, Kec. Sukaraja. Di Cibeureum, beliau berguru kepada Mama K.H. Hasan Sadzily.
Setelah dari luar Kabupaten, pada tahun 1979, Ajengan Marti kemudian kembali lagi ke Cianjur untuk berguru kepada Mama K.H. Muhammad Jazuli Nagrak. Kemudian berguru kepada Mama K.H. Muhammad bin Mama K.H. Ahmad Syathibi Batu Kurung, Desa Cinangsi, Kec. Cikalongkulon, Cianjur.
ULAMA PRODUKTIF
Setelah menjalani rihlah keilmuan dari berbagai pesantren di Jawa Barat, pada tahun 1980, Ajengan Marti kemudian menikah dengan putri salah satu gurunya ketika di Gasol Pusaka, Mama K.H. Ahmad Khotib.
Mama Khotib hijrah dari Gasol ke Seuseupan, Kec. Cugenang, Cianjur, dan membawa beberapa santri. Salah satu santri yang ikut hijrah dari Gasol ke Seusupan yaitu Ajengan Marti.
Artikel Terkait
Mutiara Pagi: Kemesraan Ini (Bagian 1686)
Mutiara Pagi: Perjalanan Panjang (Bagian 1687)
Korps Protokol Pramuka STAI Al-Azhary Jadi Pilar Kesuksesan Wisuda ke-29
Vina dan Vani: Si Kembar Anggun Protokoler yang Jadi Sorotan Wisuda Ke-29 STAI Al-Azhary Cianjur
Why I Support Zohran Mamdani to Be the Next Mayor of New York City
Cetak Instruktur Pemberdaya, Kader GP Ansor Karangtengah Ikuti Pelatihan Agro
Aku Adalah Titik Terkecil di Alam Semesta
Kembali Gelar Kegiatan Pengabdian Masyarakat, Education Nusantara Indonesia Kini Jelajahi Negeri Wandan
Prabowo dan Jokowi Turun Gunung Pilkada Jawa Tengah, Ada Apa?
Mutiara Pagi: Seperti Buku (Bagian 1688)