Oleh : Entang Sastraatmadja
Dunia pergabahan dan dunia perberasan, memang penuh dengan misteri. Bahkan bisa menjadi paradoks. Ketika produksi gabah turun, lalu saat panen harga gabah di petani anjlok, tiba-tiba Nilai Tukar Petani dikabarkan meningkat cukup signifikan. Pertanyaan kritis dan mendasar, mungkinkah hal seperti itu dapat terjadi ? Kalau bisa, faktor apa yang menjadi penyebabnya ?
Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2024 sebesar 119,61 atau naik 0,70 persen dibanding bulan Juni 2024. Lalu, NTP nasional Agustus 2024, tercatat sebesar 119,85 atau naik 0,20 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Dan NTP September 2024 NTP mencapai 120,30 atau naik 0,45 poin dibanding bulan Agustus 2024. Data ini menjelaskan, selama 3 bulan berturut-turut NTP mengalami kenaikan.
Seiring dengqn itu, sejak awal tahun 2024 Pemerintah mengumumkan produksi beras secara nasional melorot dengan angka cukup tinggi. Salah satu penyebab utamanya, karena adanya serangan El Nino yang membuat gagal panen di banyak daerah. Kementerian Pertanian menghitung potensi gagal panen diprediksi bisa mencapai angka maksimal 1,2 juta ton beras.
Turunnya produksi beras disaat kebutuhan beras dalam negeri meningkat, khususnya untuk mengokohkan cadangan beras Pemerintah dan Program Bantuan Langsung Beras, membuat Pemerintah merencanakan impor beras dengan angka cukup tinggi. Beberapa pejabat menghitung, impor beras yang dilakukan dapat menembus angka 5 juta ton beras.
Sedangkan beras untuk kebutuhan konsumsi masyarakat bisa dikatakan aman, karena produksi beras yang dihasilkan para petani dalam negeri dobandingkan dengan konsumsi masyarakat, sejujurnya kita masih surplus, sekalipun jumlah surplusnya mengalami penurunan dari tahun ke tahunnya. Untuk tahun 2023, Indonesia masih surplus sekitar 900 ribu ton beras.
Fenomena anjloknya harga gabah setiap musim panen tiba, sepertinya sudah mengedepan menjadi hal yang biasa dalam kehidupan petani padi. Disebut luar biasa, bila waktu panen datang, ternyata harga gabah di tingkat petani melesat cukup tinggi. Petani sendiri berharap agar Pemerintah mampu menciptakan suasana agar saat panen harga gabah tidak anjlok.
Hal ini penting dicermati, karena dalam usahatani padi, sebagian besar petani akan menjual hasil panenannya dalam bentuk gabah kering panen (GKP). Jarang sekali petani padi yang mampu mengolahnya menjadi beras. Itu sebabnya, menjadi kekeluruan yang sangat besar, jika ada yang berpandangan, mahalnya harga beras akan menguntungkan bagi petani.
Mahalnya harga beras tanpa dibarengi dengan kenaikan harga gabah yang wajar, jelas cuma akan menguntungkan para bandar, tengkulak, pedagang, pengusaha penggilingan padi dan Perum Bulog. Petani sendiri lebih banyak yang gigit jari ketimbang bersukaria. Mereka pemilik beraslah yang tampak bahagia, merasakan kenikmatan harga yang diperolehnya.
Ada persoalan menggelitik melihat gambaran semacam ini. Para petani pun wajar mempertanyakan, kemana Pemerintah ketika harga gabah anjlok ? Bukankah Pemerintah akan selalu hadir di tengah kesulitan petani ? Lebih sedih lagi, petani melihat Pemerintah seperti yang tak berdaya dalam melakukan pengendalian harga gabah yang menguntungkan bagi petani.
Kondisi ini mestinya tidak perlu terjadi. Dengan segudang kekuasaan dan kewenangan yang digenggam, harusnya Pemerintah mampu melahirkan regulasi yang berpihak kepada petani. Pemerintah penting menjamin, saat panen tiba harga gabah di petani tidak akan melorot. Kalau saja hal ini dapat diwujudkan, pasti petani akan memberi acungan jempol kepada Pemerintah.
Sayangnya, hingga kini jaminan seperti itu, tak kunjung datang dari Pemerintah. Dalam suasana sekarang, Pemerintah tetap menggunakan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah Gabah dan Beras sebagai solusinya. Padahal, kita tahu persis dengan mematok angka HPP Gabah sebesar Rp.6000,- per kg, nasib dan kehidupan petani hanya mampu untuk sekedar bertahan hidup semata.
Langkah Pemerintah menggenjot ptoduksi habis-habisan, tentu patut didukung sepenuh hati. Tapi, penting juga diingatkan peningkatan kesejahteraan petaninya. Pemerintah selain berusaha meningkatkan produksi dan produktivitas beras, perlu juga dirumuskan soal Grand Desain Peningkatan Kesejahteraan Petani padinya pula.
Basis berpikirnya, jangan lagi menggunakan asumsi, jika produksi dapat ditingkatkan setinggi-tingginya, otomatis petani akan sejahtera. Anggapan seperti ini, cukup menyesatkan. Sebab, fakta menunjukkan, sekalipun produksi meningkat, namun bila harga jualnya anjlok, maka para petani tetap menderita dan tetap hidup sengsara.
Artikel Terkait
Kita Manusia Pasti Akan Mati
Peringatan Usia Enam Puluh Tahun
MTV Exit Indonesia Lebarkan Sayap hingga ke Luar Jawa
Mutiara Pagi: Mencari Surga (Bagian 1643)
Lirik Lagu Theme Song Hari Santri Nasional 2024
Membangun Kesederhanaan Duniawi dan Keterpautan Hati pada Akhirat
Wajibnya Jilbab bagi Wanita
Mestinya, Presiden Bicara Hak Atas Pangan
Mutiara Pagi: Titik Nadir (Bagian 1644)
Fatwa Jihad dan Resolusi Jihad