Ilmu Filsafat Direkomendasikan Masuk Kurikulum Sekolah Menengah

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Jumat, 20 September 2024 | 17:28 WIB
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema
Fakultas Ushuluddin dan Filsafat (FUF) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema

JournalNusantara.com – Filsafat merupakan induk dari berbagai macam ilmu dan pengetahuan. Berfilsafat berarti berfikir bebas, hingga ke akar-akar permasalahan. namun demikian masih saja ada pihak yang memandang sebelah mata terhadap Ilmu Filsafat ini.

Jumlah peminat Program Studi (Prodi) Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) masih minim. Hal ini menjadi salah satu tantangan utama perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.

Ketua Asosiasi Aqidah dan Filsafat Islam (Asafi) Kholid Al Walid mengatakan, hingga kini, prodi ini masih kurang peminat. Kecuali, pada beberapa kampus tertentu seperti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

"Oleh karena itu, perlu sebuah strategi khusus untuk menangani hal ini," ujar Kholid dalam simposium tahunan Prodi AFI se-Indonesia dikutip Jumat (20/9).

Menurutnya, ilmu Filsafat ini perlu diperkenalkan lebih dini pada siswa. Salah satunya, dengan menjadi mata pelajaran (mapel) dan masuk kurikulum di tingkat sekolah menengah. Dengan begitu, sisiwa jadi lebih tahu arti penting filsafat dan urgensinya memilih prodi ini.

"Ini juga sekaligus memberi peluang kepada alumni AFI untuk dapat mengajar di jenjang sekolah menengah," ungkapnya. Mengingat, peluang kerja ini sering kali jadi tantangan besar oleh para alumni Prodi AFI.

Selain tantangan internal, lanjut dia, Profi AFI juga menghadapi tantangan eksternal. Yaitu bangsa Indonesia yang mulai terjebak pada pola politik pragmatis dan politik praktis.

Kholid menyebut, isu yang banyak menjadi pembicaraan masyarakat saat ini bukan hal-hal substantif, tapi cenderung hanya politik praktis. Padahal, negara memiliki masalah substansial bangsa yang belum terselesaikan.

"Misalnya membangun nilai moderasi, penanaman nilai-nilai Pancasila dan pendidikan, dan sebagainya," sambung dia.

Sementara itu, Wakil Rektor I Bidang Akademik UIN Bandung Dadan Rusmana menilai pertemuan yang dihadiri 75 ketua dan sekretaris Prodi AFI se-Indonesia ini sangat penting. Sebab, para pemikir dari seluruh kampus Islam negeri dan swasta kini dituntut kiprahnya agar dapat memberikan tawaran pemikiran yang mendalam dan substantial bagi Indonesia.

"Demikian juga para pemikir muslim Indonesia untuk mampu memberikan tawaran pemikiran Islam Indonesia yang moderat ke dunia Internasional. Hal ini sebagai Upaya menciptakan perdamaian dunia," jelasnya.

Sebagai informasi, simposium Prodi AFI berlangsung pada 18-20 September 2024 di Bandung. Pertemuan yang diikuti perwakilan Prodi AFI seluruh Indonesia ini membahas internasionalisasi Prodi AFI untuk terus berkembangkan dan terhubung dengan kampus-kampus internasional dalam rumpun keilmuan yang sama.***

Sumber : JawaPos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X