Oleh: KH Ulil Abshar Abdalla (Cendikiawan dan Ketua PBNU )
Saya merasa akhir-akhir ini ada keresahan di sebagian teman-teman nahdliyyin yang bermain medsos. Sebabnya adalah serangan dan "negatif sentiment" terhadap PBNU dan Gus Yahya.
Cuitan kali ini hendak saya tujukan kepada teman-teman NU untuk sedikit "ngedem-ngedem" dan melerai perasaan mereka.
1. Serangan "virtual" atas PBNU dan Gus Yahya akhir-akhir ini bisa saya pahami. Ada perkembangan krusial menyangkut NU yang bisa menjadi bahan "bakar" untuk serangan: konsesi tambang, keberangkatan lima anak NU ke Israel, bahkan Gus Yahya sendiri juga pernah pergi ke sana, dan lain-lain.
3. Yang lebih krusial lagi adalah "posisi politik" PBNU yang saat ini dekat dengan Pemerintah Jokowi pada saat presiden kita ini sudah tidak lagi menjadi "hero" bagi kelas menengah seperti tahun-tahun lalu. Setiap kubu yang berpihak pada Jokowi saat ini sudah pasti rentan menjadi obyek kritik dan serangan. Ini hal yang biasa dalam setiap pertarungan politik.
4. NU adalah ormas besar. Setiap dinamika apapun yang terjadi di dalam dan pada organisasi ini, pasti akan memantik reaksi dan komentar dari publik. Kita harus memaklumi hal ini. Komentar-komentar itu, baik positif atau negatif, harus dimaknai sebagai pertanda bahwa "NU matters"; NU penting, karena itu menjadi pusat perhatian.
5. Dalam percakapan personal, Gus Yahya juga kadang membicarakan soal sentimen negatif terhadap NU hari-hari ini. Salah satu komentarnya yang saya suka kira-kira begini: "Saya ini bukan politisi yang peduli elektabilitas. Jadi, saya kurang begitu peduli pada reaksi publik. Saya hanya melakukan sesuatu yang saya anggap benar dan tepat. Reaksi publik seperti apa, monggo saja."
6. Jadi, teman-teman NU tidak usah resah dengan sentimen negatif terhadap NU di medsos hari-hari ini. Reaksi seperti ini kita maklumi saja. Jika ada sesuatu yang bisa dijelaskan, ya kita jelaskan, seperti soal kunjungan lima teman NU ke Israel itu. Kalau sudah dijelaskan kok masih dicerca terus, ya dibiarkan saja. Namanya juga netizen. Kalau tidak ada cercaan memang tidak seru.
7. Teman-teman NU tidak usah terlalu risau dengan sentimen di medsos. Memang percakapan di medsos tidak bisa diabaikan. Tetapi juga jangan terlalu "terfiksasi" atau terpaku oleh isu di medsos. Isu di medsos cepat datang dan pergi. Dan apa yamg terjadi di medsos tidaklah mencerminkan realitas sehari-hari.
8. Teman-teman NU tetaplah aktif seperti biasa, memperkuat organisasi di segala tingkatan. Kritik-kritik dari luar harus kita anggap sebagai "pupuk" penyubur semangat.
9. Terakhir: belum pernah NU sebagai jam'iyyah solid dan kokoh dari pusat sampai ke bawah seperti di zaman Gus Yahya saat ini. Kaderisasi berjalan begitu intensif saat ini di seluruh Indonesia. Pembenahan lembaga dan banom sedang berlangsung dengan serius saat ini.
Dengan segala kekurangannya, PBNU di bawah Gus Yahya berjalan kompak dan solid saat ini. Serangan-serangan kepada PBNU saat ini justru mengingatkan saya pada era Gus Dur dulu. Di zaman Gus Dur dulu, NU mengalami situasi serupa: menjadi sasaran kritik dari begitu banyak pihak, karena Gus Dur berani mengambil keputusan yang kadang kontroversial, dan berani berpikir "non-linier".
Alhamdulillah, "bakat" berani bertindak non-linier ini diwarisi anak-anak NU sejak dulu hingga sekarang. Ini positif karena bisa menghidupkan diskusi, perdebatan, polemik, kontroversi. Suasana jadi hidup. Islam pun jadi dinamis.
Kalau ingin tidur nyaman dan tidak kontroversial, ya diam saja dan jadilah sosok yang menyenangkan semua pihak. Tetapi dengan begitu, anda tidak menjadi apa-apa.
Artikel Terkait
Heboh AJC di Indonesia
Heboh, 5 Oknum Nahdliyyin Lakukan Kunjungan ke Israel
Ketika Orang Pintar Jadi Jongos
Sejarah Pilkada Serentak di Indonesia
Miss World
Ikan Kembung vs Ikan Salmon, Baik Mana untuk Dikonsumsi?
dr. Mohammad Wahyu Diprediksi Jadi Kuda Hitam di Pilkada Cianjur 2024
AHY Nonton Final Proliga, Kecewa Karena Hal Ini
Bikin Bangga, Keluarga Prajurit Yonif 5 Marinir Raih Prestasi Karate Open
Potret Candi Prambanan Tawarkan Pemandangan yang Menakjubkan dan Memesona