92 Persen Pekerja di Indonesia Manfaatkan AI dalam Bekerja, di Tingkat Global 72 Persen

photo author
Ridwan Mubarok, Journal Nusantara
- Selasa, 25 Juni 2024 | 18:44 WIB
Meta dan iPhone sedang membahas pengintegrasian AI generatif ke dalam produk mereka masing-masing. (Nugroho Asmoro)
Meta dan iPhone sedang membahas pengintegrasian AI generatif ke dalam produk mereka masing-masing. (Nugroho Asmoro)

Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M Nugraha, dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir saat kerja sama keduanya terkait optimalisasi AI atau kecerdasan buatan guna mendorong inklusi keuangan.
Direktur Digital dan Teknologi Informasi BRI Arga M Nugraha, dan Presiden Direktur Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir saat kerja sama keduanya terkait optimalisasi AI atau kecerdasan buatan guna mendorong inklusi keuangan. (suaramerdeka.com/Dok)

JournalNusantara.com - Indikator paling nyata dari perkembangan Revolusi 5.0 adalah kecerdasan artifisial (Artificial Intelegence). Kecerdasan buatan yang kini menjadi trending topik media di seluruh dunia.

Diam-diam Indonesia menjadi negara dengan pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang cukup tinggi di dunia. Khususnya di sektor industri atau tenaga kerja. Hasil survei dari Microsoft menyebutkan sebanyak 92 persen pekerja di Indonesia sudah menggunakan AI di tempat kerjanya.

Fakta pemanfaatan AI dalam bekerja tersebut, disampaikan President Microsoft Indonesia Dharma Simorangkir.

"Sebanyak 92 persen pekerja di Indonesia sudah pakai AI (artificial intelligence) di tempat kerjanya. Sementara di tingkat global (baru) 72 persen," katanya di peresmian prodi S1 Sains Data dan S1 Perpajakan Universitas Terbuka pada Senin (24/6). Dia juga menyampaikan, banyak pekerja memanfaatkan tools sendiri dalam memanfaatkan AI.

Lebih lanjut Dharma mengatakan, dari sisi industri atau pemberi kerja juga semakin menaruh perhatian terhadap pemanfaatan AI. Bahkan sebanyak 62 persen pimpinan perusahaan di Indonesia, tidak akan merekrut pekerja tanpa keterampilan AI.

Baca Juga: Semarak Pilkada Jakarta 2024, Anies Baswedan - Sohibul Iman Resmi Diusung PKS

Bahkan ada kecenderungan industri bersedia menerima pekerja meskipun tanpa pengalaman kerja. Dengan catatan, pekerja itu sudah mahir dalam memanfaatkan AI. Fenomena pemanfaatan AI di lingkungan bekerja itu, harus menjadi perhatian perguruan tinggi. Supaya lulusan mereka sesuai dengan kebutuhan industri. Dharma mengatakan riset tersebut diambil dari 30 ribu partisipan yang tersebar di 31 negara.

Dalam kesempatan yang sama Ketua Umum DPP Asosiasi Pendidikan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Prof Achmad Benny Mutiara mengatakan, program studi informatika sampai saat ini masih ramai diminati masyarakat.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kemudian muncul program studi sains data. Dia mengatakan program studi sains data tergolong baru. "Lulusannya dibutuhkan pemerintah maupun institusi swasta," jelasnya.

Benny mengatakan berbagai jenis industri membutuhkan ahli sains data. Diantara adalah bidang e-commerce, health care, finance, dan lainnya. Menurut dia pekerjaan utama ilmuan data adalah menghadirkan data yang berkualitas. Selain itu juga mampu mendeskripsikan data.

"Yang tidak kalah penting, ilmuan data juga mampu mendiagnosis sebuah data," katanya. Kemudian juga mampu memprediksi berdasarkan data, hingga memberikan rekomendasi penting dari data yang diserap.

Sumber: JawaPos/ Hilmi Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Ridwan Mubarok

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X