Asosiasi Dosen Pergerakan Dialektika Keagamaan dan Kebangsaan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Senin, 27 Mei 2024 | 07:55 WIB
Peta Indonesia (pixabay)
Peta Indonesia (pixabay)

Oleh: Ruchman Basori (Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia dan Inspektur Wilayah II Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI)

Beberapa tahun yang lalu, bisa jadi menjadi sejarah pertama, para dosen yang berlatar belakang organisasi kemahasiswaan, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) membentuk wadah. Sebelumnya belum pernah ada.

Munculnya media sosial, telah menggerakan para kader, yang saat ini menjadi alumni PMII, untuk berkumpul, menautkan diri dan berhimpun dalam sebuah wadah. Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatulloh (UIN SATU) Tulungagung menjadi saksi sejarah.

Gagasan yang luar biasa, tentang keagamaan dan kebangsaan muncul dari para cendekiawan ala ahulussnah wal jama'ah. Setelah berproses dan berdinamika sekian lama, ikut membangun Indonesia.

Pro kontra pentingnya wadah alumni PMII yang berprofesi menjadi dosen, selesai sudah dengan deklarasi kelahiran Asosiasi Dosen Pergerakan disingkat ADP.

Profesor Sejarah Pendidikan Islam UIN Walisongo Semarang, Prof. H. Abdurrahman Mas'ud, M.A., Ph.D didaulat menjadi Ketua Umum untuk pertama kali dan melibatkan ratusan perwakilan dosen dari perguruan tinggi se-Indonesia untuk menjadi pengurus.

Kini ADP telah memasuki usianya yang ke-3, usia balita yang harus terus berproses untuk dikuatkan, guna menjadi sandaran cita-cita para anggotanya.

Tiga Kepentingan

Kelahiran ADP merupakan keinginan yang membuncah, kuat dan terus terpelihara. Bukan semata-mata kepentingan pragmatis, tetapi jauh dari itu ada kepentingan substantif. Setidaknya didasarkan kepada tiga kepentingaan;

Pertama, Mempertahankan Eksistensi Idiologi Islam Ahlussunnah Waljama'ah. Para pimpinan, kader dan anggota PMII yang kini bermetamorfosis menjadi dosen, mempunyai komitmen yang kuat agar keberagamaan Islam ala ahlussnnah waljama'ah tetap harus tumbuh dan berkembang di bumi nusantara.

Maraknya paham keagamaan yang formalistik, rigid, kadang mengarah pada intoleransi dan radikalisme menjadi keprihatinan mendalam bagi para dosen PMII. Keyakaninan akan idiologi Islam aswaja, telah mendarah daging dan tertanam kuat sejak masuk sebagai warga pergerakan saat di kampus.

Apalagi akhir-akahir ini, disinyalir perguruan tinggi menjadi tempat efektif bagi lahirnya kelompok yang berpikir keagamaan intoleran jauh dari model keagamaan para ulama nusantara, sebagaimana yang diyakini PMII. Pelbagai riset telah menunjukan betapa tinggi angka intoleransi dikalangan mahasiswa yang mencapai 39%.

Kedua, Mempertahankan keutuhan Pancasila dan NKRI. Para dosen pergerakan telah didoktrin dengan sangat baik, memiliki komitmen keagamaan dan kebangsaan secara berimbang. Gagasan pribumisasi Islam ala KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi landasan idiologi kebangsaan. Islam tumbuh di Indonesia tidak lepas dari akar kebangsaan. Islam tampil menjadi rahmatan lil 'alamin dalam negara bangsa yang pluralistik.

Munculnya kelompok yang ingin mengganti Pancasila dan NKRI, dengan dasar negara yang lain, telah menggerakan dosen PMII untuk terus peduli. Indonesia tidak boleh hancur oleh kelompok yang baru datang, tetapi seakan mereka menjadi pemilik yang syah negeri ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X