Selamat Hari Kartini: Menggugat Makna Cantik

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 21 April 2024 | 17:52 WIB
Tak Hanya Tentang Sanggul dan Kebaya, Sosok Santri Kartini Dibalik Habis Gelap Terbitlah Terang yang Tak Banyak Dikenal (Kominfo)
Tak Hanya Tentang Sanggul dan Kebaya, Sosok Santri Kartini Dibalik Habis Gelap Terbitlah Terang yang Tak Banyak Dikenal (Kominfo)

Jalaludin Rumi

Sejatinya cantik itu relatif dan tidak universal. Bahkan bersifat parokialistik dan lokalistik milik subyektiftas suku dan ras tertentu. Namun semakin kencangnya hembusan globalisasi, memberi kesan seolah gambaran cantik itu semakin kuat mengarah kepada perempuan Berbie berkulit putih dari Eropa dan Amerika.

Secara tidak sadar, menjadikan cantik khas wanita Barat menjadi referensi kecantikan dunia. Referensi itu semakin diperkuat oleh kekuatan ekonomi, teknologi, & pasar yang telah menglobalisasikan budayanya.

Menjadikan cantik itu diperdagangkan & persaingkan. Seolah bagi yang kalah & tidak mampu bersaing tidak berhak untuk disebut cantik atau tidak boleh menjadi referensi cantik.

Sejatinya orang Afrika dan Afro-Americans juga punya definisi dan gambaran tersendiri tentang cantik, berbeda dengan orang Eropa dan Amerika kulit putih.

Orang Afrika berkulit hitam tidak bisa dipaksa punya gambaran yang sama dengan orang kulit putih. Oleh karena itu, kita jangan pernah mau didekkte untuk mendefinisikan cantik menurut orang lain. Jadilah diri kita sendiri dan dimulailah dari dalam diri kita sendiri.

Hanya karena kesadaran kita dibombardir terus menerus oleh media, khususnya media Barat sehingga kita punya imaji cantik itu identik dengan kulit putih. Bedak dan bonekapun harus putih.

Memberi kesan seolah hitam itu gelap, dan kotor. Cantik itu seperti wanita Barbie berkulit putih dari Paris, New York, London dan terutama dari pusat-pusat mode dunia. Hitam itu identik dengan jelek, kotor, dan gelap.

Sekarang coba kita berandai-andai kemajuan peradaban dunia itu ada di Afrika. Pusat mode dan industri kecantikan dunia itu ada di Afrika.

Pasti kita semua berlomba-lomba meniru wajah Afrika. Bedak kita bukan putih, tetapi hitam. Bahkan itu bagi orang desa tidak perlu sulit mencari bedak, cukup pantat wajan-pun juga jadi.

Sekarang pada diri orang-orang tertentu justeru gambaran cantik itu telah bergeser dari bermakna indah menjadikan kita rasis tanpa sadar. Kesadaran rasis berdasarkan warna kulit dan orientasi cantik. Menerima begitu saja kesan dan gambaran monolitik tentang cantik berdasarkan warna kulit.

Apa yang salah? Yang salah adalah kesadaran diri kita sendiri yang reseptif, tidak kritis, dan menerima kebudayaan begitu saja. Terutama kosmopolitanisme budaya kaum urban melalui marketing & tebaran media promosi dan iklan komersial.

Budaya inilah yang diglobalisasikan ke seluruh penjuru dunia. Diglobalisasikan dari pusat-pusat metropolis dunia ke daerah-daerah pinggiran (peripherals) di kampung-kampung kita.

Oleh karena itu, buatlah definisi cantik itu selalu subyektif. Tak semata cantik lahir, tapi juga cantik batin. Tak semata kata benda, tetapi juga kata kerja. Seperti kalam hikmah dari Jalaluddin Rumi: Biarkan keindahan dari apa yang kamu cintai itu menjadi apa yang kamu lakukan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Selasa, 5 Mei 2026 | 22:25 WIB

Polri dan TNI Bersinergi Sikat Mafia Migas

Selasa, 7 April 2026 | 17:45 WIB

Menghindari Kemacetan Puncak

Sabtu, 4 April 2026 | 10:40 WIB
X