(Belajar dari Ibnu Maskawaih dan Schopenhauer)
Di antara senyap anugerah Tuhan yang bertabur
dua jiwa bertemu dalam detik yang tak terukur
Satu dari padang pasir, membawa harum akhlak Nabi
Satu dari salju Eropa, membawa resah di dalam hati
Keduanya duduk, tak membantah, hanya merenung sunyi
Ibnu Maskawaih bicara dengan cahaya,
tentang jiwa yang bersih karena cinta dan doa,
tentang amal sebagai tangga menuju surga,
tentang manusia, bukan sekadar tubuh dan rupa,
melainkan ruh yang mencium keabadian pada sehelai sabda
Schopenhauer menjawab dengan bayangan redup,
tentang dunia sebagai cermin penderitaan dalam hidup,
tentang kehendak yang mesti dikekang,
agar hati menemukan senandung sunyi yang tenang,
sebab di balik cinta dunia, kesia-siaan selalu terbayang
Tapi bukan debat yang melahirkan kebenaran,
melainkan pertemuan dua pelayaran
Keduanya sama-sama mencari pulau kebijaksanaan,
bukan lewat kemenangan logika,
melainkan melalui kerendahatian dan luka yang dijaga
“Jiwa,” kata Maskawaih, “ditempa oleh amal dan makrifat.”
“Kehendak,” bisik Schopenhauer, “dibungkam oleh senyap yang taat.”
Dan keduanya mengangguk,
seperti dua burung yang berbeda bentuk,
namun terbang ke langit yang sama:
langit cinta yang menolak nama dan rupa
Di antara mereka,
berdiri sepi yang suci,
seperti puisi,
yang tak butuh dimengerti untuk menjadi abadi
Dan kita, para peziarah zaman ini,
dapat menikmatinya di cangkir batin sendiri
dengan penuh kesadaran:
bahwa kita bukan hanya ingin kehidupan
tapi berharap makna dan kesejatian
Malang, 30 Juli 2025
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Melawan Terik Matahari, Tetap Adem di Tengah Cuaca Panas Menyengat
Dunia Penjara Tanpa Jeruji
Judi Online di Balik Konflik Thailand-Kamboja?
Mutiara Pagi: Kita Sering Lupa (Bagian 1915)
Gelar Audiensi dengan BPBD, PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur Desak Percepatan Relokasi Korban Bencana
Mutiara Pagi: Bisikan Sang Kiai (Bagian 1916)
Zohran's Victory, Democratic Party Leaders, and AIPAC
Tak Terima di Tuduh Penggelapan Ketua KPAI Cianjur Laporkan ke Mapolres Cianjur
Hijaukan Bumi, Mahasiswa KKN Kelompok 9 STAI Al-Azhary Tanam 100 Pohon untuk Ekoteologi Islam
PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur Audiensi ke BPBD, Tuntut Kepastian Relokasi dan Huntara bagi Korban Bencana