Journalnusantara.com – Persepsi umum masyarakat kerap menyamakan gejala penuaan dengan indikasi penyakit. Namun, seorang direktur rumah sakit terkemuka di Beijing memaparkan pandangan berbeda yang meredefinisi kondisi lansia.
Ia menegaskan, banyak "penyakit" yang dialami kaum lanjut usia (lansia) sejatinya merupakan bagian dari proses penuaan yang wajar dan bukan selalu memerlukan intervensi medis berlebihan.
Menurutnya, pemahaman ini krusial agar lansia dan keluarganya tidak terperangkap dalam kekhawatiran yang tidak perlu, apalagi mengonsumsi obat-obatan yang justru berdampak buruk.
Salah satu poin penting yang disoroti adalah "kehilangan ingatan". Ia menjelaskan, ini bukanlah selalu Alzheimer, melainkan mekanisme perlindungan otak seiring bertambahnya usia.
Jika lansia hanya lupa meletakkan kunci namun masih mampu menemukannya kembali, itu bukan demensia, melainkan manifestasi alami otak yang menua.
Fenomena "berjalan lambat dan kaki tidak stabil" juga kerap disalahartikan sebagai kelumpuhan. Padahal, ini lebih disebabkan oleh degradasi otot. Solusi yang dianjurkan bukanlah pengobatan, melainkan aktivitas fisik dan gerakan rutin.
Demikian pula dengan "susah tidur" yang sering diklaim sebagai insomnia; ini hanyalah penyesuaian ritme otak dan perubahan "struktur tidur". Direktur tersebut mengingatkan bahaya ketergantungan obat tidur yang dapat meningkatkan risiko jatuh dan gangguan kognitif. Solusi terbaik bagi lansia adalah paparan sinar matahari di siang hari dan menjaga ritme harian yang teratur.
Keluhan "sakit di sekujur tubuh" yang sering dikaitkan dengan rematik juga dibantah. Sebagian besar kasus ini merupakan reaksi normal penuaan saraf yang menyebabkan peningkatan sensitivitas rasa sakit, dikenal sebagai "sensitisasi sentral".
Alih-alih mengandalkan obat penghilang rasa sakit, pendekatan yang lebih efektif adalah olahraga, terapi fisik, serta metode sederhana seperti merendam kaki, mengompres hangat sebelum tidur, dan pijat ringan.
Penting pula untuk mencermati hasil tes kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan standar yang lebih longgar untuk indikator tes pada lansia.
Misalnya, kadar kolesterol yang sedikit lebih tinggi pada lansia bahkan dikaitkan dengan harapan hidup yang lebih panjang karena perannya sebagai bahan baku sintesis hormon.
Panduan Pencegahan dan Pengobatan Hipertensi di Tiongkok juga menetapkan target tekanan darah untuk lansia di bawah 150/90 mmHg, berbeda dengan standar untuk usia muda.
Pesan kunci yang ditekankan adalah: jangan menganggap "penuaan" sebagai "penyakit". Penuaan adalah perjalanan alami.
Hal terpenting bagi keluarga adalah tidak hanya membawa orang tua ke rumah sakit, melainkan menemani mereka berjalan-jalan, berjemur, makan, dan berdialog.
Artikel Terkait
Membangun Aura Percaya Diri, Kunci Tampil Memukau Setiap Saat
Sinergi Mahasiswa KKN dalam Musyawarah Desa Sukajadi: Wujud Nyata Pengabdian untuk Masyarakat
KKN STAI Al-Azhary Cianjur Dimulai, Mahasiswa Jalin Sinergi Awal dengan Pemerintah Desa Sukakerta
Mudah! Begini Cara Mengecek Berapa Dana BOS yang Diterima Sekolah Anda
Memahami Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Pilar Penting Pendidikan Indonesia
Peran KPK dalam Mengawal Dana BOS, Mencegah Korupsi dan Menyelamatkan Pendidikan
Berbagai Modus Penyelewengan Dana BOS, Mengenali Celah dan Mencegah Kerugian Pendidikan
Mutiara Pagi: Namamu Telah Tercatat (Bagian 1905)
LBH Cianjur Gelar Mubes, Undang Para Aktivis dan Tokoh Nasional
Mutiara Pagi: Merespon Zaman (Bagian 1906)