Oleh: R. Julian Faluzia (Si Pangsi Toetoeng)
Menghidupkan Kembali Kesadaran dan Semangat Spiritual untuk Membangun Manusia dan Peradaban Sunda di Abad 21
Mari kita sama-sama membongkar bagaimana “Ki Sunda” bekerja sebagai sistem berpikir, lalu menerjemahkannya jadi metode praktis untuk pendidikan, ekonomi, dan tata kelola hari ini dan nanti.
Pertama kali kita bongkar miskonsepsi bahwa Ki Sunda = masa lalu yang mati.
Siapa Ki Sunda?
Ki Sunda itu bukan siapa dan dari mana, tapi sistem operasi dari buah pikir yang sangat mendalam. Ki Sunda hadir sebagai “semangat panduan” kebudayaan Sunda.
Kenapa saat ini gagal dipahami bahkan malah ditinggalkan? Karena kesalahan terbesar melihat Ki Sunda hanya sebagai tarian, baju adat, dan lomba-lomba saja yang lebih ke arah seremonial.
Padahal, kalau mau melihat lebih jauh ke pemajuan kebudayaan yang mencakup histori/sejarah, esensi, dan filosofinya, Ki Sunda adalah KOMPAS etika, ekologi, dan ekonomi.
Kalau hilang, Sunda jadi penumpang di negerinya sendiri. Sunda akan kehilangan arah ke jati dirinya, kehilangan sosok panutan atau kepemimpinan, serta arah konsep pembangunannya.
Ki Sunda bukan sekadar hanya bernostalgia akan kebanggaan akan para leluhur dan warisannya saja, tapi PENENTU ARAH bagi masyarakat Sunda itu sendiri dalam berkehidupan.
Baik hubungan manusia dengan Sang Hyang (Sang Maha Tunggal / Allah SWT), manusia dengan manusia dan makhluk hidup lainnya, serta manusia dengan alam dan lingkungannya.
Buah pikir Ki Sunda itu fleksibel, tidak kaku tapi luwes, dan sebenarnya sangat bisa dilakukan serta dirasakan sendiri oleh seluruh masyarakat Sunda. Namun, bukan berarti kita harus kembali ke masa lalu.
Secara etnografi kritis dan desain sistem yang diperbaharui sesuai dengan kemajuan zaman, tidak ada salahnya dilakukan rekayasa ulang atau rekayasa peradaban Sunda.
Seandainya Ki Sunda adalah sosok manusia, mungkin saat ini akan merasa sedih melihat SUNDA TERLUKA atas identitasnya.
Artikel Terkait
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Belajar Keikhlasan dan Ketaatan dari Nabi Ibrahim di Hari Raya Kurban (Bagian 40)
Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)
Memahami Bab Ketiga Qanun Asasi dan Relevansinya Saat Ini
Le Eminence Buka Lowongan Kerja Sektor Perhotelan di Puncak dan Lembang
Perangai Islam Ilmiah
Rekacipta Indonesia
Desak Perpres Alih Status Dosen PPPK Jadi PNS, DPP ADAPI Minta Anggota Kawal Pemberitaan
Mengapa Indonesia Sulit Maju?
Mutiara Pagi: Tangan Langit (Bagian 2219)
Fokus Kebangkitan Ekonomi Umat, Pengurus PC Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Cianjur Periode 2026-2030 Resmi Dilantik