Luka tersebut terlihat dari menurunnya penutur Bahasa Sunda aktif (termasuk aksaranya), adanya dominasi kurikulum yang tersentralistik hingga mengabaikan kearifan lokal, serta derasnya urbanisasi yang perlahan mencabut akar kesundaan.
Saat ini, memandang Ki Sunda itu kuno, ketinggalan, dan tidak bergengsi seperti budaya lain. Akhirnya, ada perasaan malu ketika berbahasa Sunda. Aksara Sunda pun dianggap buat apa dipelajari? Hingga generasi saat ini pun tak kenal dengan istilah-istilah Sunda, bahkan termasuk ajaran kesundaan dengan aneka ragam caranya.
Salah satu akar permasalahannya yang lain adalah: sistem pembangunan yang menempatkan kebudayaan lokal (Sunda) hanya sebatas "aksesoris" saja, BUKAN sistem operasi.
Tri Tangtu di Buana: Sistem Operasi Ki Sunda
Tri Tangtu di Buana adalah salah satu sistem operasi Ki Sunda yang menekankan pada tatanan hidup yang tidak pernah atau tidak bisa dipisahkan:
Buana Nyungcung
Dimensi spiritual dan etika. Peran leluhur, pamali, dan hubungan dengan Sang Hyang.
Buana Panca Tengah
Dimensi sosial. Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh sebagai hukum tak tertulis.
Buana Larang
Dimensi ekologi. Hutan, gunung, sungai sebagai subjek hukum, bukan objek eksploitasi.
Ketiganya bisa kita ketahui, kita mengerti, dan kita pahami baik secara akademis, logika, sains, dan filosofis karena lebih menekankan pada unsur rasa, kesadaran, dan semangat spiritual yang dibangun untuk masyarakat Sunda, BUKAN KLENIK.
Contoh bagaimana Seren Taun menyatukan ketiga buana dalam satu siklus pertanian. Contoh lainnya Ngalokat Cai pun sama, yang semuanya saling berkaitan.
Semangat spiritual lainnya adalah ketika adanya sistem kepatuhan tanpa keterlibatan aparat. Seperti istilah "Pamali" sebagai kode ekologi yang sebenarnya bisa diterapkan kini dan nanti. Contohnya: pamali larangan tebang pohon di hulu, atau larangan berburu pada musim kawin hewan.
Ketika terjadi pelanggaran pun, masyarakat terdahulu lebih mengedepankan sanksi sosial daripada denda.
Artikel Terkait
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Belajar Keikhlasan dan Ketaatan dari Nabi Ibrahim di Hari Raya Kurban (Bagian 40)
Mutiara Pagi: Istiqomah Terberat (Bagian 2218)
Memahami Bab Ketiga Qanun Asasi dan Relevansinya Saat Ini
Le Eminence Buka Lowongan Kerja Sektor Perhotelan di Puncak dan Lembang
Perangai Islam Ilmiah
Rekacipta Indonesia
Desak Perpres Alih Status Dosen PPPK Jadi PNS, DPP ADAPI Minta Anggota Kawal Pemberitaan
Mengapa Indonesia Sulit Maju?
Mutiara Pagi: Tangan Langit (Bagian 2219)
Fokus Kebangkitan Ekonomi Umat, Pengurus PC Pemuda Muslimin Indonesia Kabupaten Cianjur Periode 2026-2030 Resmi Dilantik