betapa anehnya rasa
ketika logika tak lagi berkuasa
menjelma menjadi satu-satunya bahasa
nurani pun larut, kehilangan daya
menggugurkan segala pertimbangan
nalar pun tunduk tanpa perlawanan
sehingga tak mampu membedakan
antara kesalahan dan kebenaran
ego menjulang tanpa tepi
menutup mata dan hati yang suci
membisikkan kebenaran versi diri
seakan dirinya yang paling mengerti
yang tampak bukan lagi kebaikan
melainkan cela dan kekurangan
setiap terang berubah bayangan
setiap indah menjadi kesalahan
pandangan pun kehilangan keseimbangan
terperangkap dalam prasangka dan tuduhan
menilai tanpa memahami keadaan
menghakimi tanpa memberi kesempatan
jiwa pun menjelma cermin yang retak
memantulkan bayang yang kian pekat
segala yang tampak seolah rusak
padahal tak seburuk yang dilihat
Malang, 30 Mei 2026
Salam sehat,
M. Sinal
Artikel Terkait
Ketua Himpunan Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Nasional Jakarta, Fatirahma Hanipa, Gelar Kegiatan Kurban Wujud Kepedulian Sosial di Cianjur
Riuh dalam Diam: Refleksi tentang Stereotip dan Kesetaraan Gender
Mutiara Pagi: Simfoni Kerinduan (Bagian 2224)
Masjid Agung Cianjur Kelola Kurban Tokoh Nasional, Jumlah Pemohon Tembus Ribuan Orang
Ketua Bidang Keagamaan KOPRI PC PMII Cianjur, Siti Nurjamilah, Selenggarakan Kegiatan Kurban Penuh Kebersamaan
KOPRI STISIP Guna Nusantara Cianjur Soroti Kasus Dugaan Pelecehan Santriwati
Cahaya Al-Muhajirin Pepabri Gunteng: Kurban dan Solusi Krisis Kepedulian Masa Kini (Bagian 41)
Menuntut Keadilan, Refleksi atas Kasus Kekerasan Seksual di Universitas Indonesia
Presiden Salurkan Hewan Kurban untuk Petani dan Pedagang di Cianjur lewat Tani Merdeka
Menanggapi Isu Pelecehan Seksual di Fakultas Hukum Universitas Indonesia