Cara Menjaga Diri dari Perkara Haram dan Syubhat

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Sabtu, 12 Oktober 2024 | 08:00 WIB
Mimpi Tentang Minyak Bumi: Simbol Kekayaan Haram atau Masalah? (ILUSTRASI/INDONEWSTODAY.COM)
Mimpi Tentang Minyak Bumi: Simbol Kekayaan Haram atau Masalah? (ILUSTRASI/INDONEWSTODAY.COM)

Sikap wara' yang ditunjukkan Imam Abu Hanifah ini merupakan cerminan dari integritas dan kejujuran dalam perdagangan. Meski bisa saja mengabaikan masalah kecil tersebut dan tetap mendapatkan keuntungan, namun sifat wara' membuatnya berhati-hati dalam menjauhi ketidakjujuran, bahkan dalam urusan dagang yang mungkin terlihat remeh.

*Kisah Sahabat Abdullah bin Umar*

Sifat wara' yang luar biasa juga dapat dilihat dari Abdullah bin Umar, putra Khalifah Umar bin Khattab. Abdullah dikenal sebagai orang yang sangat berhati-hati dalam perkara agama dan selalu menjauhi hal-hal yang syubhat.

Suatu hari, Abdullah bin Umar sedang melakukan perjalanan dan merasa sangat haus. Ia melihat sebuah kebun milik seorang penduduk dan ingin memetik buah dari kebun tersebut. Namun, ia tidak memiliki izin dari pemilik kebun untuk memetik buah tersebut. Karena merasa ragu, Abdullah bin Umar menahan diri dan tidak memetiknya, meskipun ia sangat haus.

Ketika ditanya mengapa ia tidak memetik buah tersebut, Abdullah bin Umar menjawab, "Aku tidak tahu apakah pemilik kebun ini akan mengizinkanku untuk memetik buahnya atau tidak. Karena aku tidak yakin, aku memilih untuk tidak memetiknya demi menjaga agamaku."

Dari kisah Abdullah bin Umar ini, kita bisa belajar bahwa seseorang yang memiliki sifat wara' akan selalu memilih untuk menahan diri dari hal-hal yang meragukan, meskipun berada dalam kondisi yang sangat menginginkan hal tersebut. Abdullah bin Umar mengajarkan bahwa menjauhi perkara syubhat adalah jalan menuju ketenangan hati dan ketakwaan yang lebih tinggi.

*Abu Bakar ash-Shiddiq dan Susu dari Kambing Milik Orang Lain*

Salah satu kisah inspiratif yang menunjukkan sifat wara' adalah ketika Abu Bakar ash-Shiddiq, khalifah pertama dalam sejarah Islam, dengan keteguhan hati menjauhi hal-hal yang syubhat. Suatu hari, seorang budaknya datang dan memberikan susu untuk diminum. Abu Bakar segera meminum susu tersebut tanpa bertanya dari mana asalnya. Namun, setelah selesai minum, budaknya berkata, "Tuan, tahukah engkau dari mana susu ini berasal? Aku mendapatkannya dari seseorang yang membayar untuk pekerjaan ramalan yang pernah kulakukan pada masa jahiliyah."

Mendengar hal tersebut, Abu Bakar segera memasukkan jarinya ke tenggorokannya dan memuntahkan semua susu yang telah diminumnya. Beliau sangat khawatir bahwa susu tersebut berasal dari sumber yang haram atau meragukan. Tindakan ini menunjukkan betapa hati-hatinya Abu Bakar dalam menjaga kesucian tubuh dan jiwanya dari hal-hal yang syubhat dan haram, bahkan setelah susu itu sudah berada di perutnya.


*Pelajaran dari Kisah-Kisah Wara'*

Kisah-kisah di atas menunjukkan betapa pentingnya sifat wara' dalam kehidupan sehari-hari. Sifat ini mengajarkan kita untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, menjauhi hal-hal yang meragukan, dan selalu menjaga amanah serta kejujuran dalam setiap tindakan. Dengan meneladani perilaku wara' seperti yang dicontohkan Umar bin Abdul Aziz, Imam Abu Hanifah, dan Abdullah bin Umar, kita bisa menjaga keimanan kita, memperbaiki hubungan kita dengan Allah SWT, serta membangun kehidupan sosial yang lebih adil dan harmonis.

*Kesimpulan*

Wara' merupakan sifat mulia yang sangat dianjurkan dalam Islam, yaitu sikap berhati-hati dalam menghindari perkara syubhat dan mendekati yang haram. Sikap ini lahir dari keimanan yang kuat, rasa takut kepada Allah, dan kesadaran akan kehidupan akhirat. Wara' melindungi individu dari perbuatan dosa, termasuk dosa kecil yang kerap diabaikan. Ia juga menjaga kehormatan dan integritas pribadi serta mencegah seseorang dari tindakan yang merugikan orang lain.

Dalam aspek sosial, wara' memainkan peran penting dalam membangun masyarakat yang adil dan harmonis. Sikap ini melatih seseorang untuk selalu berhati-hati dalam mengambil keputusan, baik dalam hal yang berkaitan dengan perbuatan pribadi maupun dalam urusan harta.

Kisah-kisah inspiratif seperti perilaku wara' Umar bin Abdul Aziz dan Imam Abu Hanifah menunjukkan betapa pentingnya menjaga amanah dan hak orang lain, serta menjadikan wara' sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan yang berintegritas dan penuh ketakwaan.

Halaman:

Artikel Selanjutnya

Aswaja dan PMII

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Mutiara Pagi: Nilai Persahabatan (Bagian 2275)

Minggu, 19 Juli 2026 | 06:57 WIB

Mutiara Pagi: Kembali pada Diri (Bagian 2274)

Sabtu, 18 Juli 2026 | 06:20 WIB

Mutiara Pagi: Sembunyikan (Bagian 2273)

Jumat, 17 Juli 2026 | 05:47 WIB

Mutiara Pagi: Ketenangan Batin (Bagian 2272)

Kamis, 16 Juli 2026 | 06:03 WIB

Mutiara Pagi: Berikan Sebagian (Bagian 2270)

Selasa, 14 Juli 2026 | 06:32 WIB

Mutiara Pagi: Simpan Sebagian (Bagian 2269)

Senin, 13 Juli 2026 | 11:27 WIB

Mutiara Pagi: Perbedaan (Bagian 2268)

Minggu, 12 Juli 2026 | 06:58 WIB

Mutiara Pagi: Doa Saudara (Bagian 2266)

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:37 WIB

Mutiara Pagi: Teruslah Belajar (Bagian 2263)

Selasa, 7 Juli 2026 | 07:44 WIB

Mutiara Pagi: Cahaya Ilmu (Bagian 2261)

Minggu, 5 Juli 2026 | 09:18 WIB

Mutiara Pagi: Hidup adalah Puisi (Bagian 2260)

Sabtu, 4 Juli 2026 | 12:19 WIB

Mutiara Pagi: Kedamaian (Bagian 2259)

Jumat, 3 Juli 2026 | 07:13 WIB

Mutiara Pagi: Kebaikan (Bagian 2258)

Kamis, 2 Juli 2026 | 07:35 WIB
X