2. *Memperkuat Keimanan dan Takwa*
Wara' adalah buah dari ketakwaan. Untuk itu, memperbanyak ibadah, dzikir, dan taubat sangat penting agar hati tetap dalam kondisi yang bersih dan hati-hati dalam bertindak.
3. *Menjaga Agar Jauh dari Hal-hal yang Meragukan*
Rasulullah SAW bersabda:
طُوبَى لِمَنْ تَجَنَّبَ الشُّبُهَاتِ
"Beruntunglah orang yang menjauhi syubhat."
(HR. Tirmidzi)
4.*Berkonsultasi Dengan Ulama Dalam Hal Yang Meragukan*
Berkonsultasi dengan ulama adalah langkah bijak. Ulama memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai syariat dan dapat memberikan penjelasan yang jelas mengenai sesuatu yang syubhat. Allah SWT. Telah berfirman dalam QS. An-Nahl:43:
افَسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ
“maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
*Beberapa Kisah Inspiratif dari Karakter Wara’*
Kisah-kisah tentang sifat wara’ yang inspiratif banyak terdapat dalam sejarah para sahabat Nabi, tabi’in, dan ulama-ulama besar. Salah satu yang sangat menginspirasi adalah kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah dari Bani Umayyah yang terkenal dengan kezuhudan, ketakwaan, dan kehati-hatiannya dalam urusan agama. Sifat wara' Umar bin Abdul Aziz menjadi teladan berharga bagi umat Islam dalam menjaga diri dari perkara syubhat dan haram.
*Kisah Umar bin Abdul Aziz dan Lampu Istana*
Saat Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah, dia hidup dalam kesederhanaan dan sangat berhati-hati dalam menggunakan harta negara. Suatu malam, seorang kerabatnya datang ke istana untuk membicarakan urusan keluarga. Ketika kerabatnya mulai berbicara tentang urusan pribadi, Umar segera mematikan lampu yang ada di depannya.
Kerabatnya pun bertanya, "Mengapa engkau mematikan lampu itu, wahai Amirul Mukminin?"
Umar menjawab, "Lampu ini dinyalakan dengan minyak yang dibeli dari uang baitul mal (harta negara). Ketika kita membahas urusan umat, tidak apa-apa menggunakan lampu ini. Namun, karena sekarang kita membicarakan urusan pribadi, aku tidak boleh menggunakan lampu yang dibiayai oleh harta umat. Itu bukan hakku."
Perilaku Umar bin Abdul Aziz ini menunjukkan betapa berhati-hatinya dia dalam memisahkan antara harta pribadi dan harta negara, bahkan dalam hal yang tampak sepele seperti penggunaan lampu. Sifat wara' Umar bin Abdul Aziz mengajarkan kita tentang pentingnya integritas dan ketakwaan dalam setiap tindakan, sekecil apa pun itu, serta menunjukkan betapa berartinya menjaga amanah dan hak orang lain.
*Kisah Imam Abu Hanifah dan Kain yang Berlubang*
Kisah inspiratif lainnya datang dari Imam Abu Hanifah, pendiri mazhab Hanafi. Suatu hari, Imam Abu Hanifah menerima kain yang akan dijual di tokonya. Ketika kain tersebut sampai, ia menyadari ada lubang kecil di salah satu bagiannya. Imam Abu Hanifah memerintahkan anak buahnya untuk memberitahukan kepada setiap calon pembeli tentang cacat pada kain tersebut.
Namun, karena suatu kesalahan, kain itu terjual tanpa ada pemberitahuan tentang cacatnya. Imam Abu Hanifah, yang sangat wara', segera mencari pembeli kain tersebut. Ketika ia menemukannya, ia menawarkan dua pilihan: pembeli bisa mengembalikan kainnya dan mendapatkan uangnya kembali, atau dia bisa tetap mengambil kain tersebut dengan pengurangan harga yang sesuai.
Artikel Terkait
Aswaja dan PMII
Aswaja sebagai Landasan Utama bagi Kader PMII
Sejarah Perjuangan Bangsa
Mutiara Pagi: Tidak Semua Makhluk Bisa Berpikir (Bagian 1636)
Mutiara Pagi: Nasehat Seorang Guru (Bagian 1637)
Formula Jitu Hadapi Pemilukada ala Sultan Patrakusumah VIII
Hubungan Sejarah PMII dan NU
Tasawwuf Imam Ghazali
Plt Bupati Cianjur Bicara Pentingnya Aksi Peduli Kemanusiaan
Mutiara Pagi: Ada Seorang Perempuan (Bagian 1638)