JournalNusantara.com - Perhelatan Pemilukada serentak 27 November 2024 tinggal menghitung hari. Gambar pasangan calon Gubernur, bupati, dan walikota khususnya di Wilayah Jawa Barat sudah cukup lama dipasang diberbagai tempat strategis. Fenomena itu pun terjadi di Wilayah Tasikmlaya, Garut, Ciamis, Banjar, Pangandaran, Bandung dan Sumedang. Sehingga, di sepanjang jalan utama kota-kota ini praktis dipadati pajangan gambar para calon pemimpin yang sudah siap bertarung untuk merebut kaum pemilih dan sekaligus para pencoblosnya.
Lantas, adakah formula jitu untuk memilih para calon pemimpin dalam pemilukada?
Menanggapi fenomena tersebut, Sultan Patrakusumah VIII, Rohidin, SH, MH, M.Si angkat biacara. Ia berpandangan, pada prinsipnya masyarakat tidak perlu bingung dengan fenomena banyaknya calon pemimpin dalam Pemilukada. Pasalnya, sekalipun bakal calon itu banyak namun masyarakat harus memilih satu calon berdasarkan keyakinan nuraninya. “ Pilih calon pemimpin yang memiliki etika, pengetahuan dan elektabiltas,” ungkap dia.
Para bakal calon pemimpin yang gambarnya sudah menyebar ke berbagai peloksok, demikian Rohidin, dapat dikatakan sosok yang sudah teruji dan tercatat sebagai putra-putra terbaik. Sekalipun demikian, masyarakat selaku pemilih, tetap harus menggunakan akal sehat dan jernih dalam menetukan pilihannya. Oleh karenanya, Pemilukada dapat dijadikan sebuah proses ajang uji nyali untuk melahirkan seorang pemimpin handal dan memiliki komitmen kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat. “Masyarakat memiliki hak untuk menilai juga menguji komitmen para calon baik dari sudut pandang etika, pengetahuan termasuk tingkat popularitasnya,” imbuh pria yang kini diamanahi sebagai Ketua Umum Darma Siliwangi Nusantara (DSN).
Tidak bisa dipungkiri, Pemilukada, salah satu potret nyata dalam menjaga keberlanjutan demokrasi. Oleh sebab itu, pelaksanaan Pemilukada jangan hanya dipandang sebagai memilih seorang pemimpin akan tetapi harus dilihat secara mendalam dari aspek politik dan sosial. Dengan demikian , Pemilukada dapat dipandang sebagai esensi dari demokrasi. Manakala, Pemilukada dijalankan dengan sehat otomatis tatanan demokrasipun sehat. Demokrasi sehat dapat melahirkan kesejahteraan masyarakat yang sehat pula.
Untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat sehat menurut Rohidin, memang tidak semudah membalikkan telapan tangan. Setidaknya, harus ada komitmen kuat dari hulu sampai ke hilir untuk menciptakan iklim demokrasi yang sesungguhnya. Dalam konteks ini, pria yang tercatat sebagai mahasiswa doktoral Ilmu Manajemen Unsil Tasikmalaya, berharap masyarakat khususnya di Wilayah Parahyangan untuk menjaga agar Pemilukada berjalan baik, jujur, netral, dan obyektif baik dalam kampanye, dan pelaksanaan pencoblosan sehingga tidak membuka peta konfelik di tengah kehidupan sosial.
Pemilukada serentak memang sudah diambang pintu. Rohidin, sang pewaris kesultanan Selacau sekaligus tokoh cagar budaya mengajak masyarakat untuk menyalurkan syhawat politiknya di balik bilik suara. Kecerdasan dalam memilih calon merupakan kunci utama untuk menentukan sosok pemimpin ke depan. Mari kita songsong Pemilukada dengan penuh rasa tanggung jawab. Kemudian, jadikan Pemilukada sebagai moment penting untuk memilih pemimpin yang mampu menghadapi tantangan global dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. (Dono Darsono)
Artikel Terkait
Kualifikasi Piala Dunia, Media Negara Tetangga Soroti Naturalisasi Timnas Indonesia
Mengenal Hubungan Sejarah PMII dan NU
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial
Peran Nahdlatul Ulama dalam Kemerdekaan Indonesia
Mengenal Hubungan Sejarah PMII dan NU
Aswaja dan PMII
Aswaja sebagai Landasan Utama bagi Kader PMII
Sejarah Perjuangan Bangsa
Mutiara Pagi: Tidak Semua Makhluk Bisa Berpikir (Bagian 1636)
Mutiara Pagi: Nasehat Seorang Guru (Bagian 1637)