Sikap Islam di atas itu sejalan dengan pemaknaan hadits Rasulullah SAW: “Sesungguhnya saya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia manusia”. Budaya, tradisi atau kultur itu pada umumnya cerminan etika dan prilaku yang oleh pelakunya dianggap baik dan mulia. Di sinilah Islam sangat bijak menyikapinya. Bukan dengan serta merta menghapusnya. Karena pastinya oleh pemiliknya dianggap mulia dan baik.
Dengan pemahaman Islam tentang budaya seperti ini Komunitas Muslim di Amerika menyikapi berbagai budaya dan tradisi. Tidak serta merta karena terasosiasikan dengan Amerika lalu menjadi haram. Sebuah sikap yang dilematis di kalangan masyarakat Muslim Amerika. Mereka mengharamkan segala hal yang ada kaitannya dengan Amerika. Tapi tinggal mencari rezeki di Amerika, membayar pajak pula yang sebagiannya diberikan ke penjajah zionis.
Karenanya, bersikap rasional, komprehensif dan imbang dalam menyikapi semua hal menjadi tuntutan dalam memahami dan mengamalkan Islam. Mengharamkan tradisi, Thanksgiving misalnya, hanya akan menjadi beban bagi anak dan generasi muda di Amerika. Mereka akan merasa jika agama (faith) dan negara (nation) saling bertabrakan.
Runyamnya lagi, jika mereka merasa harus memilih satu dari dua hal yang kontradiktif itu. Karena kemungkinan besar mereka akan memilih bangsa dan negaranya. Karena itulah realita hidupnya.
Karenanya, hindari pandangan yang sempit dalam memahami agama dan budaya. Iqra!
Astoria NY, 1 Desember 2024
*Presiden Nusantara Foundation
Artikel Terkait
Komunikasi dalam Pembelajaran Mata Kuliah Pengelolaan Kelas
Agustina Wilujeng, Sebagai Contoh Calon Pemimpin Lahir dari Proses Pengkaderan Partai
Menghiasi Diri dengan Sifat Tawadhu
Gencatan Sejata Israel-Hizbullah dan Dunia Global
Jangan Menangis Airin
Momentum Transformasi ASN Menuju Pelayanan Frofesional dan Berkeadilan
Aksara Daerah di Indonesia
Mutiara Pagi: Setelah Desember Tiba (Bagian 1697)
Post Power Syndrom, Jokowi Permalukan Diri Sendiri 'Ngatur' Calon Kepala Daerah
Mutiara Pagi: Hanya Bisa Belajar (Bagian 1698)