Kemenangan Trump dan Harapan Komunitas Muslim Amerika

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 12 November 2024 | 05:29 WIB
Potret Muslim Amerika Serikat rayakan Idul Fitri 1445 H. (Tangkapan Layar/y20india.in)
Potret Muslim Amerika Serikat rayakan Idul Fitri 1445 H. (Tangkapan Layar/y20india.in)

Karakter ketidak jujuran itu ternampakkan ketika Kamala berbicara tentang isu Palestina-Israel. Ketika di depan orang-orang Yahudi dengan tegas menyatakan dukungan penuh kepada Israel. Bahwa apa yang dilakukan Israel saat ini adalah membela diri (self defense) dan Amerika berkomitmen penuh dalam dukungan persenjataan.

Namun di saat berada di masyarakat mayoritas Arab dan Muslim Kamala juga menyampaikan keinginannya agar perang segera berakhir sekaligus menginginkan solusi dua negara.

Karakter seperti ini oleh masyarakat Muslim dianggap “flip flop” alias “double standard” dan mencerminkan ketidak jujuran dalam kehidupan publik. Trump dalam hal ini walau dalam beberapa kali menyampaikan statemen yang tidak sensitif, lebih bisa dimaklumi. Selain itu strategi politiknya untuk mendapatkan dukungan, juga lebih terbuka dan jujur walau mungkin tidak selalu diterima.

Harapan komunitas Muslim adalah kejujuran Donald Trump untuk mewujudkan “perdamaian” dan menghentikan peperangan sebagaimana disampaikan berkali-kali dalam kampanyenya. Apalagi sadar jika kalkulasi Trump dalam kebijakan globalnya adalah kalkulasi eokonmi dan keuangan.

Dia pastinya sadar bahwa perang yang disponsori oleh Amerika telah banyak merugikan dan mengorbankan bangsa Amerika sendiri. Karenanya slogan “Amerika first” Atau mendahulukan kepentingan Amerika memang sejalan dengan penghentian bantuan keuangan dan militer baik ke Israel maupun ke Ukrain.

Selain isu global itu tentu komunitas Muslim sangat mendukung keterbukaan Donald Trump menentang pengrusakan nilai-nilai sosial dan keluarga dengan promosi terbuka LGBTQ dan perkawinan sejenis. Hal yang oleh sebagian menilai Kamala sebagai pendukung radikal dari kelompok LGBTQ dan perkawinan sejenis ini.

Komunitas Muslim berharap Donald Trump akan memainkan peranan yang signifikan dan tegas dalam menjaga nilai-nilai keluarga (yang alami) dan sosial secara umum. Satu di antaranya adalah melakukan pelarangan “transfer” jenis kelamin atau apa yang disebut transgender.

Hal ini sangat mengusik Bahkan mengkhawatirkan karena anak di bawah umur oleh Demokrat diberikan kebebasan dan jaminan untuk merubah jenis kelaminnya. Tentu atas nama kebebasan (freedom).

Promosi anti moralitas (berdasarkan agama) khususnya LGBTQ memang kencang di bawah pemerintahan Demokrat. Hampir segala lini kehidupan manusia terpenetrasi. Dari media, dunia entertainment, hingga ke kurikulum di sekolah-sekolah.

Menjadikan lobbi LGBTQ di Kongress saat menjadi kekuatan lobbi ketiga setelah lobby Yahudi dan Senjata. Suatu hal yang pastinya menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Amerika, khususnya umat beradgama dan lebih khusus lagi Komunitas Muslim.

Dengan mendekatnya Donald Trump dan Republican ke Komunitas Muslim kali ini boleh jadi membawa keberkahan tersendiri atau blessing in disguise. Selain ada harapan baru untuk mengakhiri perang dan menjaga untuk tidak terjadinya perang dunia ketiga.

Terlebih khusus lagi harapan Komunitas Muslim untuk penghentian genosida di Gaza dan bantuan persenjataan Amerika bagi zionist Israel. Sekali lagi ini harapan. Semoga saja Trump memenuhi janji-janjinya ketika bertemu dengan warga Muslim selama kampanye selama ini.

Selain isu global di atas tentu harapan yang juga sangat penting adalah agar Trump tetap tegas menjaga nilai-nilai dan moralitas sosial masyarakat. Bagi Komunitas Muslim hal ini menjadi sangat penting bahkan menjadi prioritas kerja-kerja dakwah.

Sehingga harapannya setelah kerenggangan (gap) antara Komunitas Muslim dan Trump (dan Republican) mengecil kedua pihak bisa berkolaborasi dalam mempromosikan nilai-nilai sosial yang positif. Kedekatan yang sangat yang selama ini tersembunyi karena “kesalahan pahaman”.

Kehadiran beberapa Imam dan Waikota Muslim Hamtramc dalam kampanye Donald Trump ketika itu nampaknya membawa angin baru dan harapan itu. Saya memang berharap sikap Republikan ke Komunitas minoritas (immigran) termasuk Komunitas Muslim membaik. Karena keduanya memilki pegangan nilai-nilai sosial dan moralitas yang dekat. Semoga!

Manhattan, 11 Nopember 2024

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X