Perjalananku ke Mekkah

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Minggu, 10 November 2024 | 14:55 WIB

Memasuki tahun 1864, seiring dengan berlangsungnya penataan-penataan wilayah administratif, terjadi pula perubahan pada struktur politik tradisional di bawah bupati. Kepala distrik yang pada tahun 1832 berjumlah 22 orang, pada tahun 1864 tinggal 17 orang. Sebutannya pun sejak tahun 1849 telah berubah, dari kapala cutak menjadi wedana. Camat, yang pada tahun 1832 berjumlah 32, pada tahun 1864 bertambah satu, menjadi 33 orang. Lurah, yang pada tahun 1832 ada 601 orang, pada tahun 1864 berkurang lebih dari setengahnya, hingga tinggal 270 orang.

Jabatan baru pada lapis atas struktur politik tradisional yang muncul pasca tahun 1832 adalah jabatan patih. Pada lapis bawah, setelah tahun 1832, struktur politik tradisional dilengkapi pula dengan jabatan-jabatan lain yang relatif baru, seperti: pancalang, mantri ulu-ulu, mantri gudang kopi, jagasatru, gebaijan, dan santana. Hingga akhir tahun 1864, di Cianjur setidaknya ada 17 orang jagasatru, 17 orang gebaijan, 145 orang mandor kebon kopi, 12 orang mantri gudang kopi, 17 orang mantri ulu-ulu, 348 orang pancalang, dan 135 orang santana.

Untuk tugas-tugas di bidang keagamaan, struktur politik tradisional di Cianjur mengenal pula pejabat-pejabat tradisional, seperti penghulu dan kleine penghulu (penghulu kecil). Para penghulu ini dalam tugasnya juga dibantu oleh ketibs (khatib) dan modins (muadzin).

Jumlah pejabat tradisional yang bertugas di bidang keagamaan ini pada tahun 1832 tercatat sebanyak 705 orang, yang terdiri dari 31 orang penghulu, 474 kleine penghulu, 65 orang ketibs, dan 135 orang modins. Dalam perkembangan selanjutnya, di samping penghulu, ketibs, dan modins, muncul pula jabatan-jabatan lain di bidang keagamaan, yakni chalifah, amil, dan marbot.

Di luar para pemimpin agama yang berada dalam suprastruktur ada pula para pemimpin agama yang berada dalam infrastruktur, yakni para haji. Dari perkembangan ini, pada tahun 1856 di Cianjur setidaknya tercatat ada 893 orang pemimpin agama, yang terdiri dari 1 orang hoofdpenghulu, 26 orang penghulu, 32 orang chalifah, 79 orang ketibs (khatib), 131 orang modins, 422 orang amil, 32 orang marbot, dan 170 orang haji.

Untuk pemimpin keagamaan, perkembangan paling menarik terjadi pada tokoh agama yang berada dalam infrastruktur. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk Cianjur yang berangkat ke tanah suci relatif terus bertambah. Hal ini juga terus berlangsung pasca terjadinya perpindahan ibukota Priangan. Peningkatan jumlah penduduk Cianjur yang berangkat ke tanah suci berpengaruh terhadap jumlah haji di Cianjur.

Pada tahun 1873, jumlah haji yang dimiliki Cianjur mencapai 907 orang. Bila dibandingkan dengan tahun 1856, jumlah haji pada tahun 1873 ini memperlihatkan adanya penambahan haji sebanyak 737 orang. Tidak seperti halnya haji, para pemimpin agama yang berada dalam suprastruktur, baik penghulu maupun pegawai yang bertugas membantu penghulu, terlihat mengalami penurunan.

Penghulu yang pada tahun 1856 berjumlah 27 orang, memasuki tahun 1873 jumlahnya tinggal 21 orang, yang terdiri dari seorang hoofd-penghulu (ditempatkan di afdeling Cianjur), seorang penghulu (ditempatkan di afdeling Sukabumi), dan 19 penghulu distrik (12 di Cianjur dan 7 di Sukabumi).

Chalifah, yang pada tahun 1856 berjumlah 32 orang, tahun 1873 jumlahnya berkurang hingga tinggal 30 orang. Ketibs, yang pada tahun 1856 berjumlah 79 orang, pada tahun 1873 jumlahnya menurun hampir setengahnya hingga tinggal 40 orang. Modins, yang pada tahun 1856 berjumlah 131 orang, pada tahun 1873 jumlahnya juga menurun secara drastis hingga tinggal 59 orang.

Amil, yang pada tahun 1856 berjumlah 422 orang, pada tahun 1873 menurun hingga tinggal 288 orang. Merbot, yang pada tahun 1856 berjumlah 32 orang, pada tahun 1873 juga terlihat mengalami pengurangan hingga tinggal 30 orang. Belum diperoleh keterangan tentang faktor penyebab berkurangnya jumlah pemimpin agama yang berada dalam suprastruktur ini.

Melalui tulisannya berupa memoar yg berbasa Belanda "Mijn Reis Naar Mekka" di tahun 1925. Kisah perjalanan Wiranatakusuma sebagai regent -pegawai pribumi pertama yg mendapat ijin untuk ke mekka dlm menunaikan ibadah haji, menarik untuk diulas karena menggambarkan Tanah Suci dari perspektifnya. Semoga informasi ini menambah khasanah pengetahuan kesejarahan kita ke depan ..wallahu a'lam bish shawab.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Jalan Maju Chile

Rabu, 8 Juli 2026 | 06:44 WIB

Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

Sabtu, 13 Juni 2026 | 12:19 WIB

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB
X