OKI Harus Berada di Garda Terdepan

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Selasa, 14 Mei 2024 | 05:52 WIB
Organisasi Konferensi Islam (OKI)
Organisasi Konferensi Islam (OKI)

Kini mereka serang Rafah siang malam mengakibatkan anak-anak dan masyarakat sipil terbunuh tanpa belas kasih.

Bangsa Palestina, khususnya mereka yang di Gaza saat ini nampaknya tidak tahu akan ke mana lagi mencari perlindungan.

Bahkan di tengah jalan pun di saat mereka berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain mereka tidak jarang dibantai tanpa pri kemanusiaan oleh penjajah dan penjahat Zionist Israel.

Kejahatan penjajah Israel ini diperburuk lagi karena keterlibatan langsung negara kuat (powerful, not necessarily super power) Amerika Serikat dan sekutunya seperti Inggris dan Jerman.

Persenjataan termasuk bom-bom yang berkekuatan besar yang dipergunakan Israel melakukan “mass killings” dan “genocide” adalah persenjataan yang di supply oleh Amerika.

Belum lagi bantuan finansial yang tidak sedikit tanpa mempertimbangkan krisis ekonomi domestik negara ini.

Jika pada masa itu sebuah organisasi besar seperti OKi berdiri karena pembakaran Masjid Al-Aqsa, saya tidak melihatnya itu lebih urgen ketimbang pembantaian Saudara-Saudara seiman di Gaza saat ini.

Nyawa manusia yang terbingkai dalam keimanan jauh lebih berharga untuk dibela ketimbang Masjid. Masjid itu rumah Allah (baitullah). Dan harus dijaga bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Nyawa manusia jauh lebih berharga dan lebih wajib dibela ketika dimusnahkan oleh tangan-tangan penjahat dan kriminal penjajah.

Karenanya jauh dari Amerika saya menyerukan kepada OKI untuk mengingat kembali sejarahnya. Bahwa OKI berdiri bukan sekedar tempat kongkow-kongkow nam Paguyuban.

Tapi harus mampu menjadi mesin penggerak negara-negara mayoritas Muslim untuk melakukan pembelaan kepada bangsa Palestina. Jika tidak maka OKI tidak sadar sejarah dan tidak punya taring untuk melaksanakan amanah pendiriannya.

Saya melihat jika Uni Eropa mampu menyatukan negara-negara Eropa sekutu Amerika (non sekutu Rusia) masanya OKI menata diri dan mampu memainkan peranan yang sama.

Lebih jauh lagi, jika Uni Eropa dan Amerika serta sekutunya berhasil menjalin kerjasama militer yang kuat bernama NATO, masanya OKI mulai memikirkan hal yang sama. Tidak tanggung-tanggung 57 negara mayoritas negara Muslim yang menjalin kekuatan militer dan pertahanan.

Apakah negara-negara besar seperti India, China, bahkan Rusia dan Amerika tidak akan respek. Saya yakin jika ada kerjasama militer dunia Islam, yang ditujukan untuk membela negara anggota yang terzholimi, saya yakin negara seperti Amerika sekalipun tidak akan semena-mena. Apalagi hanya negara sekelas Israel yang bersembunyi di bawah ketiak Amerika.

Mungkin masanya OKI membentuk IFA atau ”Islamic Force Alliance”. Atau IMA atau “Islamic Military Alliance”. Tapi itu memungkinkan jika “wihdah dan ukhuwah” Islamiyah dapat dirajut kembali. Jika tidak, maka biarkanlah saya tetap bermimpi indah di kota nun jauh di seberang sini.

ان اريد الا الاصلاح - وما توفيقي الا بالله

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB
X