Kisah Tika Tazkya: Ramadan Berturut di 3 Benua Melalui Studi dan Konferensi

photo author
Wandi Ruswannur, Journal Nusantara
- Rabu, 10 April 2024 | 16:31 WIB
Tika Tazkya (Foto: dok. pribadi)
Tika Tazkya (Foto: dok. pribadi)

Sedangkan di waktu malam justru berubah menjadi festival bazar yang meriah, tempat untuk orang-orang buka bersama. Di interval waktu tersebut adalah waktu sibuk, macet serta ramai. Hal ini sangat berdampak kepada mobilitas penggunaan transportasi online, maupun umum.

Ramadan di Malaysia bisa membawa banyak makna dan pengalaman baik. Banyak shalat berjamaah yang digelar di mesjid-mesjid besar di setiap penjuru kota. Tidak hanya untuk tarawih, bahkan untuk shalat shubuh setelah sahur pun orang-orang tetap dengan konsisten datang.

Darinya, kita tidak akan merasa sendiri dan bisa memicu untuk terus semangat beribadah setiap saatnya. Terlebih, dalam pengalaman Tika, ia mengikuti konferensi Muslim se-Asia, berdiskusi tentang hal-hal yang terjadi di umat muslim secara kontemporer.

Itikaf di Australia Saat Pergantian Zona Waktu (_Daylight Savings_)

Berbeda dengan Polandia yang puasa Ramadan cukup asing bagi mayoritas penduduknya, Melbourne Australia cukup mengenal ajaran Islam karena masyarakatnya yang multikultural.

Melbourne adalah global city dengan ribuan siswa beragam dari penjuru dunia. Komunitas Muslim di Melbourne sangatlah luas. Bahkan, terdapat diaspora asal Indonesia yang sama-sama terhubung terlebihnya di periode Ramadan.

Dengannya, banyak sekali makanan ala Indonesia seperti takjil, nasi khas jawa, bakso, yang banyak dijual dan dibagikan untuk buka bersama.

Salah satu pengalaman yang menarik bagi Tika adalah saat sedang itikaf Bersama di sepuluh hari terakhir Ramadan, namun hari itu juga bertepatan dengan pergantian zona waktu dari Musim Panas ke Musim Gugur.

Perbedaan waktu Australia yang semula berbeda 4 jam dengan Indonesia, kini hanya berbeda 3 jam saja. Dengannya, bagi yang menjalankan Ramadan jadi memiliki satu malam lebih panjang untuk sahur.

Belajar dari Melbourne, kota besar ini sangat inklusif dan sangat toleran kepada sesama. Banyak penduduk aseli yang turut memeriahkan dan menyelamatkan para siswa internasional yang sedang menjalani Ramadan. Melbourne adalah salah satu kota tujuan utama untuk study abroad.

Salah satu kelebihan dari pengalaman menjalani Bulan Suci di luar negeri adalah kita jadi lebih bisa mengapresiasi kultur dan kebiasaan yang ada di Indonesia.

Fenomena buka bersama, tarawih dengan mesjid yang sangat dekat dan banyak di setiap daerahnya, serta momen halal bihalal dengan keluarga besar, hal-hal tersebut terasa sangat mahal saat kita jauh dari rumah tercinta, Indonesia.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Wandi Ruswannur

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Langkah Spiritual dan Fisik Menuju Baitullah

Kamis, 9 April 2026 | 16:31 WIB

Misi Penjaga Perdamaian Dunia Kontingen Garuda

Minggu, 5 April 2026 | 20:47 WIB

Tetap Jaga Jarak

Jumat, 6 Maret 2026 | 14:57 WIB

Variasi Durasi Puasa di Berbagai Belahan Dunia

Minggu, 22 Februari 2026 | 04:46 WIB

Setiap Serangan Israel ke Iran, Selalu Dibayar Lunas

Kamis, 19 Februari 2026 | 05:22 WIB

AS Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Besok Siapa?

Senin, 5 Januari 2026 | 05:59 WIB

Indonesia Jd Pemimpin IG Terbesar di ASEAN

Senin, 8 Desember 2025 | 21:33 WIB

Zohran Mamdani, Syiahkah?

Minggu, 9 November 2025 | 19:59 WIB

Tangan Tetap di Pelatuk, Memaksa Zionis Tunduk

Jumat, 10 Oktober 2025 | 07:30 WIB

Delegasi Pesantren Al Masykuriyyah di Uzbekistan

Minggu, 28 September 2025 | 17:48 WIB
X