Journalnusantara.com - Menjalani bulan suci di luar negeri tentulah punya nuansa dan suasana yang sangat berbeda dari Indonesia. Terlebih untuk Tika Tazkya, mahasiswa cantik yang berturut menjalani 3x ramadan di 3 benua berbeda.
Pada tahun 2022, setelah dinyatakan lulus dari Universitas Padjadjaran, Tika mengikuti program semester pendek di Polandia (Eropa) dan menjalani Ramadan di sana.
Ramadan berikutnya, Tika mengikuti program Asia World Muslim Conference di Malaysia dan terpilih menjadi Muslim Inspiring Ambassador.
"Ramadan tahun ini, adalah salah satu bulan suci yang penuh hikmah dari Selatan Dunia yang memiliki indeks multikulturalisme tinggi, yakni Australia," kata Tika pada media online nasional Journalnusantara.com jaringan promediateknologi.id, pada hari Rabu (10/04/2024).
Tika melanjutkan studi pascasarjana-nya di bidang Hubungan Internasional. Tentu banyak sekali hikmah yang didapatkan. "Di antaranya pengalaman menjadi minoritas, puasa 17 jam di musim panas, kemeriahan Ramadan, serta pengalaman itikaf saat pergantian zona waktu," ujar Dia.
Pengalaman Menjadi Muslim Minoritas di Eropa
Polandia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama Katolik, yaitu lebih dari 91%. Sedangkan komunitas Muslim sangatlah sedikit, bahkan kurang dari 0.1%.
Berkesempatan menjalani Ibadah puasa di negara yang belum banyak mengetahui tentang puasa Ramadan adalah suatu hal yang menantang. Di tengah-tengah musim panas Eropa, kala matahari terbit pukul 4 pagi dan terbenam pukul 10 malam, ini menjadi satu waktu puasa terpanjang di dunia.
Meski demikian, sebagian kecil siswa internasional yang berasal dari Asia dan Timur Tengah tetap menjalani puasanya, termasuk Tika. Respons penduduk asli Polandia juga beragam. Mayoritas siswa di kampus sangat menghargai dan mengagumi kekuatan menahan diri untuk tidak makan di waktu yang lama.
Ada juga respons pelajar kecil Sekolah Dasar yang Tika ajar di Polandia yang gemar berkata “not even water, Tika?”. Mereka bertanya apakah bisa berpuasa selama itu bahkan tidak meminum air sedikit pun. Di momen-momen seperti ini, diri kita merepresentasikan identitas kita sebagai seorang Muslim.
Pelajaran berharga dari menjalani bulan suci di Eropa ini adalah, kita semakin melihat bagaimana para Muslim dari berbagai penjuru dunia tetap berpegang teguh dan justru lebih kuat terikat, hangat, ketika menjadi minoritas.
Belum lagi terpantik oleh para Mu’alaf asli Eropa yang dengan teguh mempelajari Islam meski sebelumnya hal itu asing bagi mereka. Sebaliknya, seringkali suatu negara dengan populasi yang didominasi Muslim justru kebanyakan masyarakatnya “merayakan” Ramadan karena antusiasme massa: hingar bingar, promo special Ramadhan, tetapi kurang begitu menjadi momen spiritual.
Ramadhan di Asia Tenggara: Kemeriahan dan Ketenangan
Malaysia, adalah negara tetangga yang banyak memiliki similaritas (kultur yang sama) dengan Indonesia. Seperti kebanyakan negara bermayoritas Islam, toko dan penjual makanan di Malaysia mayoritas tutup di siang hari.
Artikel Terkait
Biadab...Anak Bunuh Ibu Kandung Gegara Cerai Dengan Istri
Ngaku Sudah Telepon Allah SWT, Jamaah Masjid Aolia Lebaran Iedul Fitri Jum'at Kemarin
Pastikan Kondisi Korban Gempa Manula di Bulan Ramadhan, AMPUH Gelar Sapa Pengungsi
Beni Irawan : APDESI Tingkatkan Peran Desa Dalam Pembangunan Daerah
Polresta Bandung Amankan Pria Penganiaya Anak di Bawah Umur
BAZNAS Tolak Bantuan dari McDonald's, Kaki Tangan Israel !
Viral...!!! Diduga Pelanggaran HAM, Perseteruan BEM UI dan Anggota TNI di Papua Bikin Tegang
Susane Febriyati Soroti Kasus Korupsi Dana Desa yang Terjadi di Cianjur
Hati-hati,,,!! Ini Tujuh Ciri Kamu Sedang Dimanfaatkan dalam Pertemanan
Arus Mudik dan Balik, Kapolda Jawa Barat Tinjau Pos Terpadu Cileunyi