Journalnusantara.com - Dalam riuh rendah perayaan, ketika tabuhan genderang kemenangan bergaung begitu nyaring, ada kalanya kebenaran terperangkap dalam gema itu sendiri.
Frasa "kemenangan dimaknai kebenaran" bukan sekadar diksi puitis, melainkan sebuah refleksi tajam atas realitas yang kerap kita saksikan.
Ia menggambarkan sebuah fenomena di mana gemerlap podium seolah menjadi validasi tunggal atas segala narasi, tak peduli seberapa bias atau bahkan menyimpangnya dari fakta sesungguhnya.
Ironisnya, dalam euforia tersebut, yang tersisa hanyalah lagu kesombongan. Suara-suara merdu yang tadinya menyerukan janji dan harapan, kini berubah menjadi koor arogansi.
Mereka yang tadinya berjuang, kini menari dalam lingkaran narsistik, memuja bayangan diri sendiri yang diproyeksikan oleh sorot lampu kemenangan.
Ini bukan lagi tentang visi bersama, bukan pula tentang pengabdian tulus, melainkan panggung bagi ego yang membusung.
Kita bisa melihatnya di berbagai lini kehidupan. Dalam kontestasi politik, misalnya, narasi pasca-pemilu kerap didominasi oleh pihak yang meraih suara terbanyak.
Kesalahan di masa lalu seolah terhapus, kritik menjadi sumbang, dan segala kebijakan yang diusung mendadak dilabeli sebagai yang paling sahih.
Mereka berteriak, merasa yang paling suci, seolah kemenangan adalah stempel absolut dari Tuhan yang mengesahkan setiap perkataan dan perbuatan.
Narasi tunggal ini, jika tidak disaring dengan kritis, berpotensi membahayakan. Ruang dialektika menyempit, perbedaan pandang dianggap subversif, dan akuntabilitas menjadi barang langka.
Tak hanya di ranah politik, fenomena ini juga merasuk ke dalam ruang-ruang sosial lainnya, dari kompetisi bisnis hingga kontes popularitas.
Ketika sebuah entitas mencapai puncak, ada kecenderungan untuk membangun benteng narasi yang tak tertembus, mengklaim superioritas moral dan intelektual.
Kritik dianggap sebagai serangan, masukan dianggap sebagai upaya menjatuhkan. Lingkaran setan ini terus berputar, memperkuat ilusi bahwa apa pun yang keluar dari mulut pemenang adalah kebenaran mutlak.
Padahal, hakikat kebenaran itu sendiri bersifat independen dari hasil sebuah kontestasi. Ia tidak dibentuk oleh jumlah suara, tinggi jabatan, atau tebalnya dompet.
Artikel Terkait
PMII STISIP Guna Nusantara Cianjur Gelar RTK Ke-VII, Perkuat Kesatuan dan Kaderisasi
Analisis Dampak Potensial Konflik Iran-Israel, Ancaman Ekonomi Global dan Lokal
Kerusakan Citra Raja Ampat Akibat Tambang Nikel: Ancaman bagi "Surga Terakhir di Bumi"
Saatnya Memberi "Titik Tekan" pada Upaya Meragamkan Pola Makan
KH Abbas Abdul Jamil Buntet, Selangkah Menuju Pahlawan Nasional
Mitos Kelangkaan Berlian: Mengungkap Strategi di Balik Kilau Harga
Menanam Cabai di Rumah, Hobi Menyenangkan dan Hasil Menguntungkan
Makan Enak Tapi Tetap Harus Menjaga Asupan Gizi Kunci Hidup Sehat
Mutiara Pagi: Dengan Pagi (Bagian 1874)
Mutiara Pagi: Pemuja Diri Sendiri (Bagian 1875)