Journalnusantara.com - Dalam masa penjajahan Belanda di Nusantara, tidak sedikit tokoh pribumi yang justru memilih bekerja sama dengan penjajah. Beberapa dari mereka bahkan menduduki posisi penting dalam angkatan bersenjata Belanda dan membantu kompeni dalam menaklukkan berbagai wilayah di tanah air.
Akibat kerja sama ini, sejumlah tokoh tersebut dikenang dalam sejarah sebagai pengkhianat bangsa. Berikut lima tokoh pribumi yang disebut sebagai antek penjajah Belanda:
1. Kapitan Jonker
Kapitan Jonker adalah tokoh asal Ambon yang mengabdi pada VOC hingga wafat pada tahun 1689. Ia dikenal sebagai pemimpin pasukan dari Maluku yang membantu VOC dalam berbagai peperangan, mulai dari Sumatera, Jawa Timur, Banten, hingga melawan pasukan Trunojoyo (1675–1682).
Dalam menjalankan tugasnya, ia didukung oleh pasukan dari Maluku, Bugis, dan Mardijker.
Arung Palakka adalah Sultan Bone (1672–1696) yang tercatat menjalin kerja sama erat dengan VOC. Ia membantu Belanda menaklukkan Kerajaan Gowa dan merebut Kota Makassar, serta terlibat dalam konflik dengan pasukan Minangkabau.
Meski dicap sebagai pengkhianat oleh sebagian pihak karena keberpihakannya kepada VOC, banyak masyarakat Bugis justru menganggapnya sebagai pahlawan karena dinilai membebaskan rakyat Bugis dari dominasi Gowa.
3. Tololiu Hermanus Willem Dotulong
Lahir pada 12 Januari 1795 di Kema, Maluku, Tololiu Dotulong adalah pemimpin pasukan Tulungan dari Karesidenan Manado. Ia memimpin 1.242 tentara dan membantu VOC dalam menumpas pasukan Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa, serta dalam Perang Tondano (1808–1809).
Dotulong wafat pada 18 November 1888 di Sonder.
4. Jesajas Pongoh
Jesajas Pongoh, kelahiran Airmadidi, Manado pada 7 Mei 1878, adalah seorang Sersan KNIL (tentara kolonial Belanda). Ia terlibat dalam Perang Aceh periode II (1896–1900), dan atas jasanya, ia dianugerahi kehormatan Ridder Willems-Orde kelas III oleh kerajaan Belanda.
Karier militernya terus menanjak hingga mencapai pangkat Sersan Kelas Satu pada 26 September 1921.
5. Raden Ario Majang Koro
Kolonel Raden Ario Majang Koro, bangsawan asal Bangkalan, Madura, lahir pada tahun 1832. Ia terlibat dalam sejumlah perang di bawah komando Belanda, termasuk Perang Bali (1849), Perang Aceh (1875), serta ekspedisi ke Borneo Barat (1850–1854) dan Lombok (1894).
Artikel Terkait
Fragmen Peran Strategis Pembimbing KBIHU dalam Krisis Layanan di Muzdalifah 2025
Mutiara Pagi: Dari Titik Kecil (Bagian 1867)
Kecam Kekerasan terhadap Perempuan, Mahasiswa Tuntut Keadilan dan Perlindungan
FEBI UIN SGD Bandung Resmi Buka Prodi D-4 Manajemen Industri Halal, Siap Cetak Profesional Unggul
Tanah Airku
Setelah Jatah Amerika Berkurang
Memperingati 100 Tahun Komite Hijaz
Analis LK2DP Minta Presiden Prabowo Hentikan Program MBG dan KMP
BEM Bisa Hidup Lagi, Tapi Mahasiswanya Mau Enggak?
Mutiara Pagi: Meludahi Langit (Bagiaan 1869)