JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR – Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PK PMII) STISIP Guna Nusantara Cianjur menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) se-Nusantara dari tanggal 4 hingga 7 Juni 2026.
Kegiatan yang berpusat di Kampus Queen Al-Tafsiri ini mengangkat tema "Manifestasi Ijtihad Kader Mujahid dalam Menjawab Disrupsi Moral, Sosial, dan Intelektual untuk Menjaga Peradaban Nusantara".
Ketua Pelaksana, Rais Faridhan Syaban, menjelaskan bahwa forum kaderisasi ini didesain khusus untuk merespons tantangan zaman yang kian kompleks. Melalui PKD ini, penyelenggara ingin mencetak kader mujahid yang tangguh.
Tema disrupsi moral, sosial, dan intelektual sengaja diangkat agar peserta yang datang dari berbagai daerah ini pulang membawa formula konkret untuk menjaga peradaban Nusantara.
Senada dengan hal itu, Ketua Komisariat PMII STISIP Guna Nusantara, Rezza Eka Gustya, menegaskan bahwa kader PMII harus menjadi benteng pertahanan ideologi dan intelektual di era modern.
Menurutnya, ijtihad kader hari ini adalah menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan jati diri. Kader dituntut mampu meluruskan disrupsi sosial yang terjadi di masyarakat dengan pisau analisis yang tajam dan berbasis nilai-nilai lokal.
Sementara itu, Ketua KOPRI PK PMII STISIP Guna Nusantara, Riska Damayanti, menambahkan bahwa peran kader perempuan sangat vital dalam mengawal isu moralitas bangsa saat ini. Disrupsi moral dan sosial dinilai sebagai tantangan nyata.
Oleh karena itu, KOPRI berkomitmen untuk terus melahirkan kader perempuan yang berdaya secara intelektual, sekaligus menjadi penggerak dalam menjaga nilai etika dan moral peradaban.
Kegiatan kaderisasi formal tingkat kedua ini diikuti secara antusias oleh puluhan kader pergerakan dari berbagai daerah di Indonesia, yang ditutup dengan sesi foto bersama di aula Kampus Queen Al-Tafsiri.