JOURNALNUSANTARA.COM, CIANJUR - Badan Gizi Nasional atau BGN akhirnya merilis temuan mendalam terkait peristiwa keamanan konsumsi yang terjadi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di wilayah Cianjur pada pertengahan April 2026.
Penyelidikan tersebut menyoroti adanya permasalahan serius pada salah satu komponen hidangan yang disajikan kepada para penerima manfaat dalam program percontohan tersebut.
Berdasarkan data yang dihimpun tim pemeriksa, ditemukan adanya polutan kimia berupa nitrit yang terkandung di dalam masakan tumis pakcoy pada SPPG Leles 2, Sukasirna.
Temuan konsentrasi zat kimia tersebut sangat mengejutkan karena angkanya tercatat menyentuh posisi 169 kali lipat lebih tinggi jika dibandingkan dengan standar keamanan yang ditetapkan secara internasional.
Ketua Tim Investigasi Independen BGN, Arie Karimah Muhammad, menjelaskan secara rinci mengenai perbandingan angka tersebut berdasarkan standar kesehatan global.
"Jika merujuk batas maksimum JECFA untuk nitrit, yakni 0,07 mg/kg berat badan per hari. Tumis pakcoy tersebut mengandung 11,85 mg/kg, maka temuan di SPPG Leles 2 Cianjur mencapai 169 kali lipat di atas batas aman," ujar Arie dalam keterangan resminya.
Di sisi lain, laporan dari Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat menunjukkan bahwa jenis makanan lainnya yang diuji tidak menunjukkan adanya indikasi bahaya mikroba.
Berbagai sampel makanan dipastikan bebas dari infeksi bakteri patogen seperti Salmonella, E.Coli, maupun B.cereus, sehingga fokus permasalahan kini sepenuhnya tertuju pada residu zat kimia.
Melihat fakta lapangan yang ada, pihak berwenang menegaskan bahwa situasi ini memerlukan perhatian khusus demi menjamin keberlanjutan program nutrisi pemerintah.
"Temuan nitrit dinilai sangat serius dan berpotensi berdampak luas pada keamanan pangan," ucap Arie menambahkan mengenai implikasi risiko dari temuan timnya tersebut.
Sebagai langkah tindak lanjut, BGN segera menginisiasi koordinasi lintas sektoral dengan menggandeng Kementerian Pertanian guna melakukan peninjauan kembali pada rantai pasok bahan baku.
Investigasi lebih lanjut kini diarahkan untuk melacak asal muasal tingginya kadar nitrit pada sayuran tersebut guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.